psikologi sains

wacana saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu

Saturday, January 14, 2012

PERKEMBANGAN PENGETAHUAN DAN METODE ILMIAH DALAM PERSEPEKTIF FILSAFAT ILMU

SALAH SATU SYARAT UNTUK MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN MEMERLUKAN PENELITIAN. UNTUK MEMECAHKAN MASALAH DAN RASA KEINGINTAHAUANNYA DAPAT DILAKUKAN DENGAN PENDEKATAN ILMIAH

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahusedangkan kepastian dimulai dengan ragu-ragu. Rene Descartes: "De Omnibus dubitandum" (segala sesuatu harus diragukan)
Empat cara pendekatan ilmu pengetahuan
  • Metode keuletan (method of tenacity)
  • Metode kekuasaan (method of authority)
  • Metode apriori/intuisi (method of intution)
  • Metode ilmu pengetahuan (method of science)
  • Manusia berupaya membuka   rahasia alam dan rahasia   berbagai   potensi pemikiran manusia yang selalu dinamisberkembang dan sering terjadi perubahan yang cepat dengan berbagai pendekatan pengetahuan.
  • Diperlukan potensi SDM dengan tingkat tahunya yang tinggi dan memulai suatu kepastian dengan karagu-raguan.
SALAH SATU SYARAT UNTUK MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN MEMERLUKAN PENELITIAN. UNTUK MEMECAHKAN MASALAH DAN RASA KEINGINTAHAUANNYA DAPAT DILAKUKAN DENGAN PENDEKATAN ILMIAH

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahusedangkan kepastian dimulai dengan ragu-ragu. Rene Descartes: "De Omnibus dubitandum" (segala sesuatu harus diragukan)
Empat cara pendekatan ilmu pengetahuan
  • Metode keuletan (method of tenacity)
  • Metode kekuasaan (method of authority)
  • Metode apriori/intuisi (method of intution)
  • Metode ilmu pengetahuan (method of science)
  • Manusia berupaya membuka   rahasia alam dan rahasia   berbagai   potensi pemikiran manusia yang selalu dinamisberkembang dan sering terjadi perubahan yang cepat dengan berbagai pendekatan pengetahuan.
  • Diperlukan potensi SDM dengan tingkat tahunya yang tinggi dan memulai suatu kepastian dengan karagu-raguan.



Syarat Pengembangan Ilmu Pengetahuan memenuhi 3 kategori pemikiran filosofis, yaitu:

(1) ontologi ;
(2) aksiologi dan
(3) epistimologi.


Ontologi

merupakan bentuk pemahaman atas kenyataan yang menghendaki pengetahuan murni yang bebas kepentingan. Pengetahuan yang lahir dari refleksi ontologis adalah suatu disinterested knowledge. Dalam pemikiran filosofisteori berarti kontemplasi atas kosmosPhilosof memandang alam semesta dan menemukan suatu tertib yang tidak berubah-ubahyaitu suatu macrocosmos. Sang philosof melakukan kegiatan yang disebut mimesis (meniru). Kontemplasi atas kosmos menjadi tingkah laku praktis melalui kesadaran dirinya sebagai  microcosmos. Filsafat telah menarik garis batas antara ada dan waktu, yaitu antara yang tetap dan yang berubah-ubah. Pemikiran filosofis ini adalah merupakan bibit cara berpikir yang menyebabkan lahirnya ontology dalam sejarah pemikiran manusia.

Melalui teoripara philosof mulai menyusun konsep tentang keapaan (hakekatbenda-benda.
Sedang  yang disebut hakekat itu adalah inti kenyataan yang tidak berubah-ubah. Perasaan subyektif dan dorongan-dorongan emosional manusia tersebut mencoba untuk mempengaruhi hakekat adalah merupakan sikap manusia yang berubah-ubah yang berusaha mempengaruhi kemurnian pengetahuan. Sikap mengambil jarak dan membersihkan ilmu pengetahuan dari dorongan-dorongan empiris itu disebut sikap teoritis murni 
Ontologi adalah merupakan hakekat yang dikaji. 
Manusia  pada hakekatnya merupakan makhluk yang berpikirmerasabersikap dan bertindak.

Ada dua cara manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar:
  1. mendasarkan diri pada rasio 
  2. mendasarkan diri pada pengalaman (experience)
Aksiologi adalah nilai kegunaan ilmu

amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni
boyo keduman melik
kaliren wekasanipun
dilalah kerso Allah
begjo-begjone kang lali

luwih begjo kang eling lan waspodo (Ronggowarsito, 1802-1973) 

Peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bissa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan berbagai kemudahan di berbagai bidang. Sejak tumbuh berkembangnya ilmu pengetahuan terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Sejak Copernicus (1473-1543) menyampaikan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan yang sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama, maka telah timbul interaksi antara ilmu dan moral. Ilmu adalah merupakan hasil karya seseorang yang dikomunikasikan dan dikajii secara terbuka oleh masyarakat. Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab social yang terpikul di bahunya. Seorang ilmuwan mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsi selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual, tetapi juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

epistemologi 
  • Epistemologi atau logika penemuan ilmiah biasanya disamakan dengan teori metode ilmiah.
  • Teori metode itubila melampaui analisis logis atas hubungan-hubungan diantara pernyataan-pernyataan ilmiah berurusan dengan pilihan dengan metode-metode.
  • Selain itu juga putusan-putusan tentang cara meperlakukan pernyataan-pernyataan ilmiah.  
  • Epistemologi atau logika penemuan ilmiah biasanya disamakan dengan teori metode ilmiah.
  • Teori metode itubila melampaui analisis logis atas hubungan-hubungan diantara pernyataan-pernyataan ilmiah berurusan dengan pilihan dengan metode-metode. 
  • Selain itu juga putusan-putusan tentang cara meperlakukan pernyataan-pernyataan ilmiah.
  
Persoalan utama epistemologi se-nantiasa dan tetap masih seputar persoalan pertumbuhan pengetahuan. Dan pertumbuhan pengetahuan dapat dipelajari paling baik dengan mempelajari pertumbuhan pe-ngetahuan ilmiah.  Wallace (dalam Bynner&Stribley,1979),
(1) mengemukakan salah metode pendekatan pengetahuandisebut model proses ilmu  pengetahuan yang merupakan kunci dalam perilaku penelitian sosial,
 Von Wright (1971),  
memgemukakan berbagai pertentangan epistimologi yang mendasar (naturalim vs humanism),kerangka sampling dan sebagainyaPenyelidikan ilmu pengetahuan mem-punyai dua pespektif yang besaryaitu (1) mengetahui secara pasti dan menemukan fakta-fakta,  (2) membangun (menyusunhipotesis dan teori2

 Sedangkan bangunan teori dapat melayani dua tujuan utamayaitu
  1. Meramal kejadian-kejadian atau hasil dari percobaan,
  2. Menjelaskan agar supaya fakta-fakta dapat dimengerti dan dicatat secara tepat

Semenjak akhir jaman Renaissance tumbuh ilmu pengetahuan sosial yang berkembang pesat dan menjadi pendatang baru bagi ilmu pe-ngetahuan alam  (natural science) yg telah berkembang pesat dan sudah mandiri sebelumnya.

Dalam penelaahan ilmu pengetahuan tersebutterjadi dua pertentangan metode (pertentangan epistimologiyang utamayaitu antara aliran yng berusaha mempertahankan penelaah-an ilmu pengetahuan dengan menggunakan dasar-dasar pembahasan yang dipakai oleh pengetahuan alam. Aliran ini terkenal dengan sebutan aliran positivisme yang dipimpin oleh August Comte&JSMill, dan aliran yang menentang aliran positivisme yaitu aliran idealisme (hermeneutics/verstehen), yang dipimpin oleh Wilhelm Dilthey dan Max Weber (G.H.von Wright, 1971).

Prinsip-prinsip yg dipertahankan oleh aliran positivisme adalah
  1. adanya kesatuan metodelogi ilmu pengetahuan di tengah perbedaan subyek dan penyelidikan ilmu pengetahuan;
  2. pandangan eksak ilmu pengetahuan alampemakaian analisis fisik matematis untuk mengukur perkembangan imu pengetahuan termasuk ilmu pengetahuan sosial
  3. Pandangan karakteristik dari imu pengetahuan yang menjelaskan (perasaan/pandangan yng luas adanya hubungan sebab akibat dan sebagainya).


Pandangan tersebut berbeda dengan pendapat aliran idealism,  yang antara lain menyebutkan bahwa :
  1. banyak hal dalam kehidupan masyarakat yang bertentangan dengan pola pemikiran ilmu eksak atau ilmu pengetahuan alam
  2. dalam metode pengetahuan sosial banyak yang menggunakan logika rasional yg berdasarkan kenyataan dan pengertian yang rasional
  3. Metode menjelaskan dikotomi yang dikembangkan di Jerman oleh filosof-filosof Jerman.,

Pertentangan epistimologi dan prinsip - prinsip dasar dalam penelaahan ilmu pengetahuan ini masih ber kembang sampai saaat iniwalaupun telah muncul berbagai aliran baru yg mencoba menggunakan metode ber dasarkan tujuan yg hendak dicapai (perkawinan antara pandangan tersebut). Kelihatannya menggunakan metode berdasarkan upaya untuk mencapi tujuan penelitian ini yg sering dilakukan oleh peneliti-peneliti pemula maupun peneliti lanjut.

Logika Penemuan Ilmiah 

Ada-orang yang keberatan bahwa akan lebih relevan bila memandang bahwa urusan epistemologilah untuk menghasilkan apa yg disebut “rekonstruksi rasional” dari langkah yang telah membawa sang ilmuwan menuju suatu penemuan pada penemuan kebenaran baru tertentu
 Ingin merekonstruksi secara rasional ujian-ujian berikutnya yang membuat inspirasi itu menjadi sebuah penemuanatau menjadi dikenal sebagai pengetahuan.

Sang ilmuwan mempertimbangkanmengubahatau menolak inspirasinya sendiri secara kritiskita dapatjika kita maumemandang analisis metodologis yg dijalankan disini sebagai suatu jenis “rekonstruksi rasional” dari proses berpikir yg serupa. Ilmu empiris dapat dicirikan lewat fakta bahwa ia menggunakan apa yg mereka sebut “metode induktifMenurut pandangan ini logika penemuan ilmiah akan identik dengan logika induktifyakni dengan analisis logis terhadap metode induktif ini.Ia biasa disebut suatu penyimpulan (inference) “induktif”  
jika ia berasal dari pernyataan tunggal” (terkadang juga disebut pernyataan “partikular”),  
seperti laporan mengenai hasil pengamatan atau eksperimenmenjadi pernyataan-pernyataan universal, seperti hipotesis-hipotesis atau teori-teori. 

Prinsip-prinsip induksi :
  1. Prinsip induksi akan menjadi sebuah pernyataan yg lewat bantuannya kita dapat menaruh 
  2.  kesimpulan-kesimpulan induktif ke dalam bentuk yg dapat diterima secara logis.
  3. Prinsip induksi teramat penting bagi metode ilmiah:….prinsip ini”, kata Reichenbach,” menentukan kebenaran teori-teori ilmiah 
  4. Prinsip induksijelaslahilmu tidak berhak lagi membedakan teori-teorinya dari 
  5.  ciptaan-ciptaan pikiran sang penyair yang khayali dan sewenang-wenang.
  6. Prinsip induksi haruslah berupa sebuah pernyataan sintetikyaitu sebuah pernyataan yang penyangkalan-nya tidak menyangkal dirinya sendiri (self-contradictionmalahan mungkin secara logis.
  7. Prinsip induksi pastilah suatu per-nyataan universal. Mengasumsikan suatu prinsip induktif dari tataran yg lebih tinggidan seterusnya.
  8. Prinsip induksi (yg dirumuskannya sebagai “prinsip penyebaran universal”) adalah “sahih a priori”, pembenaran apriori bagi pernyataan-pernyataan sintetik itu berhasilPenyimpulan-penyimpulan induktif adalah penyimpulan-penyimpulan yg mungkin.
  9. Prinsip induksi sebagai alat ilmu untuk memutuskan kebenaran.
  10. Prinsip induksi membantu unutk memutuskan probabilitasKarena tidak ditakdirkan bagi ilmu untuk mencapai baik kebenaran maupun kekeliruanPernyataan-pernyataan ilmiah hanya dapat mencapai derajat probabilitas yg kontinu dengan batas atas dan batas bawah yg dapat dicapai itulah kebenaran dan kekeliruan.
  11. Derajat probabilitas tertentu diberikan pada pernyataan-pernyataan yg didasarkan pada penyimpulan induktif, hal ini akan dibenarkan dengan memunculkan suatu prinsip induksi yg baru, yg dimodifikasi dengan tepat. Prinsip baru ini harus dibenarkan, dan seterusnya.
  12. Prinsip induksi itu gilirannya, dianggap bukan sebagai yg benar melainkan hanya sebagai yg boleh jadi (probable) atau logika probabilitas, mengakibatkan suatu gerak mundur yg tiada akhir atau doktrin apriorisme
Teori yg dikembangkan dalam bagian berikut secara langsung  berhadapan dengan segenap usaha yg bekerja dengan ide-ide logika induktif. Psikologi pengetahuan yang berkenaan dengan fakta empiris, logika pengetahuan yg hanya berkenaan dengan hubungan-hubungan logis. Metode pengujian teori-teori secara kritis, dan penyelesaiannya menurut hasil peng-ujian, selalu diteruskan pada jalur2 berikut ini ide baru yg diajukan sementara, dan belum dibenarkan denga cara apapun-suatu antisipasi, sebuah hipotesis, sebuah sistem teoritis, atau apa pun kesimpulan-kesimpulan dengan cara deduksi logis. Kita dapat membedakan empat jalur yang berbeda yg dapat ditempuh bagi pengujian sebuah teori :
  1. Perbandingan logiskesimpulan-kesimpulan diantara mereka, dengan inilah konsistensi internal sistem itu diuji
  2. Penyelidikan pada bentuk logis teori itu, dengan maksud untuk menentukan apakah mempunyai ciri teori empiris atau ilmiah, 
  3. atau apakah ia, misalnya bersifat tautologis
  4. Perbandingan dengan teori lain, terutama dengan tujuan untuk me menentukan apakah teori  yg akan membentuk suatu kamajuan ilmiah harus ber-tahan menghadapi beraneka macam peng-ujian kita. 
  5. Dan akhirnya, pengujian teori melalui penerapan empiris kesimpulan yang dapat diperoleh darinya
Prosedur pengujian ternyata juga bersifat deduktif. Putusan ini bersifat positif, yaitu:
jika kesimpulan tunggalnya ternyata dapat terima (acceptable) atau terbukti (verified), maka teori itu, untuk sementara waktu, telah lolos dari ujian-nya: kita tidak menemukan alasan untuk membuangnya. (2) Tetapi jika putusan itu negatif, atau dengan kata lain, jika kesimpulan itu telah terbukti kesalahannya (falsified), maka falsifikasinya juga memfalsifikasi teori yg dari sana ia simpulkan secara logis. Mem-berikan suatu analisis yg lebih rinci terhadap metode2 pengujian deduktif. Berusaha menunjukan bahwa, dalam kerangka-kerja analisis ini semua masalah dapat dihubungkan dengan apa yg biasa disebut “ epistemologis”.

Era Kemajuan Sudah Berakhir

Kemajuan (Progress) lahir pada era Renaisans, menikmati masa remaja yang subur saat era Enlightenment (Pencerahan), mencapai usia dewasa yang matang di era industri, lalu mati seiring berakhirnya abad ke-20. Sudah beberapa melinium tidak terjadi kemajuan, yang ada hanya perputaran. Hanya siklus. Musim berganti musim. Generasi2 datang dan pergi. Hidup tidak menjadi lebih baik, tetapi mengulangi dirinya sendiri dalam pola yang sama tanpa akhir. Tidak ada masa depan, karena itu sendiri tidak dapat dibeda-kan dari masa lalu Lalu datang keyakinan pasti bahwa kemajuan tidak hanya mungkin terjadi tetapi juga juga tidak terhindarkan. Usia harapan hidup akan bertambah. Kenyamanan meterial akan bertambah. Pengetahuan akan bertumbuh. Pendeknya, tidak hal yang tidak dapat berkembang menjadi lebih baik. Displin akal budi dan alur-alur deduktif dari sains akan dapat diterapkan bagi segala masalah, mulai dari mendesain serikat politik yang lebih sempurna sampai menguraikan atom yang sangat rumit

Saya tidak lagi menjadi tawanan sejarah. Apa pun yang dapat saya imajinasikan, saya mampu mewujudkannya. 
Saya tidak lagi budak dalam birokrasi yang tidak tahu malu. 
Saya seorang aktivis, bukan pemalas. Saya tidak lagi menjadi prajurit pejalan kaki dalam derap kemajuan.  Saya seorang Revolusioner.
  
Perhatikan Kawanan Angsa

Yang terbang tinggi. Mereka menanjak, menukik, belok kanan kiri,  tak terganggu arah angin, rintangan di udara, dan jarak tempuh. Tidak ada visioner besar dikawasan angsa. Tidak ada chairman. Mereka juga tidak bisa membaca ramalan-ramalan tentang rintangan yang akan mereka hadapi. Meski demikian, arah penerbangan mereka selalu benar.

Kawanan angsa terbang ini, dan beberapa contoh keharmonisan spontan di sekeliling kita, sering digambarkan sebagai tatanan tanpa perekayasa saksama atau tatanan bebas. 
Permainan yang memikat dari banyak pasar yang menentukan perekonomian global, keberagaman di Internet, perilaku koloni semut, komposisi ujung anak panah seperti yang dipertontonkan angsa terbang, adalah sejumlah kecil contoh di mana tatanan atau orde muncul begitu saja tanpa adanya otoritas sentral... ....

1 comment:

Lembaga Penelitian UG said...

Sehubungan dengan akan diselenggarakan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur dan Teknik Sipil (PESAT) 2013 dengan tema Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Revitalisasi Peradaban pada tanggal 8-9 Oktober 2013 di Bandung, maka kami mengundang Bapak/ibu/sdr/sdri turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada alamat URL http://penelitian.gunadarma.ac.id/pesat