psikologi sains

wacana saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu

Saturday, December 3, 2011

PRASANGKA

DEFINISI PRASANGKA


Berasal dari kata pra = sebelum; sangka = dugaan, pendapat yang didasarkan atas perasaan hati, syak, kesangsian, keraguan

Prasangka : anggapan dan pendapat yang kurang menyenangkan atau penilaian negatif yang tidak rasional, yang ditujukan pada individu atau suatu kelompok tertentu (yang menjadi objek prasangka), sebelum mengetahui, menyaksikan, menyelidiki objek-objek prasangka tersebut.

Prasangka juga dapat dikatakan sebagai attitude-attitude sosial negatif, yang ditujukan pada individu atau golongan lain dan hal ini mempengaruhi tingkah laku golongan individu yang berprasangka tersebut.

Prasangka mulanya hanya merupakan sikap-sikap negatif, tapi lama kelamaan akan memunculkan tindakan-tindakan yang menghambat, merugikan bahkan mengancam kehidupan pribadi golongan tertentu




KOMPONEN PRASANGKA

Prasangka melibatkan 3 komponen : afeksi (emosi), kognisi, dan perilaku

Komponen afeksi : terwujud pada perasaan tidak suka terhadap objek prasangka

Komponen kognisi : terwujud pada penilaian yang negatif terhadap objek prasangka

Komponen perilaku : terwujud pada predisposisi untuk bereaksi atau berperilaku negatif terhadap objek prasangka



Prasangka & Stereotipe

Prasangka erat kaitannya dengan stereotipe (kecenderungan dari seseorang atau sekelompok orang untuk menampilkan gambaran atau gagasan yang keliru (fals idea) tentang sekelompok orang lainnya). Gambaran yang keliru tersebut berupa gambaran yang tidak valid, bersifat menghina atau merendahkan, baik dalam segi fisik meupun dalam sifat atau tingkah laku.Stereotipe merupakan faktor yang secara otomatis dapat membentuk prasangka

The existence of stereotypes, like that of all schema, means that information consistent with the schema is more conspicuous to the prejudiced person and is remembered more easily than other information.

Information inconsistent with the stereotype is ignored and readily forgotten.

Stereotypes determine how information is interpreted, so that even when people are exposed to data contrary to their stereotype, they may interpret the information in a way that support their prejudice.

Discrimination

Stereotypes may increase the chances of discrimination occurring.

Discrimination : the behavioral manifestation of stereotypes and prejudice, refers to negative (or sometime positive) actions toward members of a particular group due to their membership in a particular group.

Although prejudice and discrimination often go hand in hand, one may be present without the other.



Prejudice and Discrimination : the Vicious Circle (gambar tidak dapat ditampilkan)

Stage 1 : prejudice and discrimination begin, often as an expression of ethnocentrism or an attempt to justify economic exploitation

Stage 2 : As a result of prejudice and discrimination, a minority is socially disadvantaged, occupying a low position in the system of social stratification

Stage 3 : This social disadvantage is then interpreted not as the result of earlier prejudice and discrimination but as evidence that the minority is innately inferior, unleashing renewed prejudice & discrimination by which the cycle repeats itself

Towards whom are prejudice, stereotyping & discrimination directed ?

In many cases, it is towards members of minority groups.

Minority groups are not just groups that are numerically smaller than majority groups.

Minority group : is a group in which the members have significantly less power, control, and influence over their own lives than do members of a dominant group.


Teori-teori berkaitan dengan prasangka

Teori Konflik Realistik

Teori ini menyatakan bila 2 kelompok bersaing memperebutkan sumber yang langka, mereka akan saling mengancam. Hal ini akan menimbulkan permusuhan dan menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbal balik.

Individu/kelompok yang paling merasa terancam akan menjadi individu yang paling besar prasangkanya

Orang kulit putih yang paling merasa terancam karena adanya integrasi rasial atau karena banyaknya kejahatan yang dilakukan orang kulit hitam, akan menjadi individu/kelompok yang paling berprasangka

Teori Belajar Sosial

Memandang prasangka sebagai sesuatu yg dipelajari dengan cara yang sama seperti bila seseorang mempelajari nilai-nilai sosial yg lain

Prasangka disebarluaskan dari orang yang satu ke orang yang lain sebagai bagian dari sejumlah norma.

Prasangka diperoleh seorang anak melalui proses sosialisasi. Anak akan mempelajari sikap berprasangka agar dapat diterima orang lain.

Proses Kognitif

Prasangka dianggap sebagai hasil yang tidak dapat dihindari dari adanya kategorisasi sosial

Prasangka terjadi karena adanya bias kognitif

Pengamat (orang yg berprasangka) cenderung melakukan fundamental attribution error (mendistribusikan perilaku orang lain pada faktor internal atau disposisional serta mengatribusikan perilaku diri sendiri pada faktor eksternal/situasional)

Teori Psikodinamika

Prasangka dianggap sebagai ekspresi dari kondisi-kondisi yang tidak disadari, yang bersumber dari konflik internal, kekerasan, frustasi dan tekanan lingkungan yang kemudian dialihkan kepada kelompok yang tidak bersalah atau minoritas

Teori ini juga menganggap prasangka sebagai gangguan kepribadian seperti halnya phobia atau neurotis. Misalnya : kepribadian otoriter

Sebab-sebab Munculnya Prasangka

a. Kategori Sosial
b. Kepribadian
c. Proses Belajar
d. Kompetisi
e. Institusi dan Norma Sosial
f. Religiusitas

Bentuk-bentuk Prasangka

Antikolisis : berupa gosip/humor yang dimaksudkan untuk mengejek atau menyindir orang-orang yang menjadi objek prasangka

Avoidance : jika prasangka lebih intens maka individu yang berprasangka akan menghindari objek prasangka. Misal : mengindari kontak mata. Dalam hal ini ia tidak membahayakan objek prasangka, hanya merasa tidak nyaman jika berhubungan dengan objek prasangkanya

Diskriminasi : individu yang berprasangka membuat perbedaan yang tegas dalam memperlakukan kelompok orang-orang yang disukainya dan orang2 yang tidak disukainya ke dalam komunitas tertentu. Misal : pekerjaan, perumahan, sekolah, komunitas lain yang hanya untuk ingroup-nya saja

Serangan fisik : dalam kondisi emosi yang sangat tinggi orang-orang yang memiliki prasangka bisa melakukan serangan atau kekerasan fisik baik langsung maupun tidak langsung.

Pembantaian : jika prasangka sudah mencapai tingkat yang paling tinggi maka muncullah dorongan untuk melakukan pembantaian terhadap anggota outgroup. Misal : konflik agama di Maluku

Bagaimana Mengurangi Prasangka ?

a. Meningkatkan saling ketergantungan diantara kelompok masyarakat (mutual interdependency)
b. Menciptakan tujuan yang harus diperjuangkan bersama (a common goal)
c. Mengakui adanya kesamaan status diantara kelompok masyarakat
d. Melakukan kontak dengan kelompok lain dalam suasana yang akrab (friendly) dan bersifat personal
e. Kontak tersebut dilakukan dengan banyak anggota dari kelompok luar (multiple members)
f. Membuat norma-norma yang mendukung terciptanya kesamaan status diantara kelompok masyarakat(social norms of equality)






1 comment:

herizal alwi said...

“Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya” (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni, MA.).

Kita sering mendengar lidah tidak bertulang, sehingga yang dikatakan cenderung tidak mencari tegakan apa yang dikatakannya.
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no (6064) dan Muslim, no (2563).

Berprasangka boleh dan tidak dilarang, asalkan berprasangka yang baik-baik. Sehingga untuk mencari kebenaran dari prasangka itu tentunya kita harus mencari tahu dari sumber aslinya, jangan mudah terpancing perkataan orang lain atau media. Meskipun banyak sekarang yang mudah percaya media dari pada teman karibnya sendiri. Islam mengajarkan tabayun (cross-check langsung) dalam mencari kebenaran berita.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”
(QS. Al Hujuraat [49]: 12)