psikologi sains

wacana saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu

Wednesday, January 19, 2011

psikologi dan kesehatan

Abad ini, peningkatan harapan hidup di Negara-negara industri, pengeseran dari penyakit menular sebagai penyebab kematian , seperti pneumonia dan influenza, tuberculosis dan diphtera.Sekitar 40% dari kematian disebabkan oleh 11 besar penyakit menular di 1900, 6% dari kematian yang disebabkan oleh penyakit menular di 1973 (McKinlay & McKinlay, 1981). Sekarang pembunuh terbesar adalah penyakit non menular yaitu kardiovaskuler penyakit hat,i stroke dan kanker. Di antara penyakit menular, sindrom kekebalan tubuh (AIDS) menjadi penyebab kematian yang terbesar.
Penyakit-penyakit ini sebagian disebabkan oleh perilaku yang merugikan kesehatan seperti merokok, minum alkohol terlalu banyak, makan berlebihan, kebiasaan duduk yang terlalu lama atau berkaitan dengan perilaku seksual yang beresiko (sebagai tambahan, lihat Stroebe & Stroebe, 1995). Faktor kebiasaan hidup sbg faktor penyebab kesakitan dan kematian di negara-negara industri di akhir 1970.
Dengan perkembangan psikologi kesehatan sebagai cabang ilmu psokologi. Penggabungan pengetahuan psikologi sehubungan dengan pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit. Karena kebiasaan hidup sering dipengaruhi oleh kepercayaan kesehatan dan sikap kesehatan
Psikologi kesehatan menawarkan kesempatan yang menantang untuk psikolog sosial, yang mempelajari sikap dan perubahan sikap seseorang . Psikolog sosial dapat membantu merancang kampanye media masa yang efektif untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang bahaya yang terkandung dalam rokok, minum beralkohol, kurang olahraga, atau sikap hubungan seksual yang beresiko, dan mengajak mereka agar mengubah gaya hidupmya.



Faktor-faktor Perilaku Sehat
Langkah pertama dari usaha perubahan sikap adalah identifikasi syarat-syarat dari perilaku target.
Memfokuskan pada dua jenis yang telah berkembang untuk memprediksi perilaku sehat : model keyakinan kesehatan dan teori pendorong perlindungan.
Model Kepercayaan Kesehatan
Model keyakinan kesehatan dikembangkan di tahun 1950 oleh psikolog sosial di US Public Health Service dalam sebuah usaha untuk memahami mengapa orang gagal memprotek penyakit atau melakukan tes dari deteksi awal penyakit yang tidak sesuai dengan pemberantasan gejala awal (Janz & Becker, 1984). Model ini termasuk dalam model harapan nilai keluarga (Bab 2 : Jonas: 1993).
Model-model ini membuat asumsi bahwa keputusan berbeda didasarkan atas dua tipe pengamatan :
(1) Perkiraan individu dari kemungkinan bahwa seseorang yang diberi aksi akan memperoleh hasil tertentu
(2) nilai diletakkan pada hasil oleh individu. Model ini beranggapan bahwa individu akan memilih dari alternatif-alternatif arah yang beragam dari aksi bahwa alternatif akan mengarahkan ke dampak positif atau menghindari dampak negatif. Seperti teori aksi beralasan (Fishbein & Ajzen, 1975).
Model kepercayaan kesehatan berusaha untuk menjelaskan sikap yang berada di bawah kontrol kesadaran individu. Tapi tak seperti dengan teori, ini beranggapan bahwa sebuah hubungan langsung antara kepercayaan dan sikap daripada sebuah hubungan yang didasari pamrih.



Model
Berdasar pada model kepercayaan kesehatan (Gambar 5.1) adalah anggapan bahwa perilaku sehat ditentukan oleh 4 kepercayaan kesehatan di bawah ini :
(1) Kelemahan yang terasa : dampak dari sakit / penyakit.
(2) Kekerasan yang terasa : kekerasan fisik seperti luka atau konsekuensi sosial (seperti mempengaruhi orang lain, ketidakmampuan untuk bekerja) dari menderita penyakit
(3) Keuntungan yang terasa : tingkatan perlindungan perilaku tertentu akan dilihat sebagai penurunan kelemahan atau kekerasan yang terasa dari resiko kesehatan tertentu,
(4) Hambatan yang terasa : aspek negatif yang terasa dari perilaku sehat tertentu : Keuangan, usaha, dampak dari pengobatan yang mungkin menurunkan keinginan individu untuk menggunakan perilaku. Selanjutnya beberapa isyarat mengasumsikan menjadi penting untuk memicu perilaku (Rosenstock, 1974). “Isyarat untuk aksi” ini bisa menjadi internal (seperti gejala atau eksternal seperti kampanye media masa).












Faktor – faktor kelemahan yang terasa dan kekerasan yang terasa menentukan kepercayaan di dalam perilaku kesehatan personal, menghasilkan hal yang umum, sebelum energi untuk aksi diarahkan ke hasil. Individu yang merasa terancam akan mencari jalan untuk mengurangi ancaman. Analisa untung rugi melibatkan “keuntungan yang terasa” dan “hambatan yang terasa” menentukan kepercayaan dalam keefektifan dari sebuah pengukuran kesehatan untuk mengurangi resiko dan mengarahkan pilihan pada perilaku tertentu. Contoh, siswa yang aktif secara seksual berhubungan seks yang tak terlindungi dengan berbagai macam pasangan, mungkin merasa bahwa dia akan beresiko mendapat transmisi penyakit seksual. Secara tidak langsung, menderita herpes atau AIDS akan mendapat beberapa konsekuensi.
Siswa mungkin berpikir berbagai macam alternaitf aksi untuk mengurangi resiko, seperti hubungan seks hanya dengan pasangan tetap, selalu menggunakan kondom. Masing-masing dari aksi ini akan menurunkan resiko, tapi akan ada biayanya. Contoh, penggunaan kondom akan mengurangi resiko infeksi tapi juga kenikmatan dari seks. Siswa mungkin akan terus mempertimbangkan alternatif-alternatif ini tanpa mengambil aksi, sampai ada isyarat untuk aksi, seperti sebuah laporan dalam makalah bahwa persebaran AIDS meningkat atau penularan penyakit seksual meningkat.
Model Evaluasi Empiris
Teori motivasi perlindungan telah diaplikasikan ke berbagai perilaku yang berhubungan dengan kesehatan seperti pengkonsumsian alkohol, merokok, pemeriksaan payudara sendiri dan gerak badan. Selama ini Hasil-hasilnya mampu mendukung motivasi perlindungan sebagai tujuan sebagai hal yang mempunya hubungan positif pada besarnya model seperti kekerasan, kelemahan, keefektifan tenaga yang dianjurkan, dan untuk merasakan kemanjurannya. Hasil-hasil ini yang juga sangat mendukung kesehatan, telah ditemukan secara khusus dalam percobaan penelitian.



Maksud Perencanaan Atas Intervensi
Tujuan dari model-model ini untuk suatu pencampurtanganan yang dituju untuk mempengaruhi perilaku kesehatan, dapat digambarkan melalui pembelajaran yang telah ditemukan yang juga mengaplikasikan mode kesehatan pada penggunaan kondom di kalangan remaja.
Pembelajaran ini diikuti oleh 300 remaja yang aktif secara seksual, yang telah menggunakan perilaku secara disengaja sebagai wakil dari tingkah laku dan mengamati hubungan dari empat dimensi model untuk membawa dan menggunakan kondom, telah ditemukan infeksi HIV, merasa mudah terserang HIV, dapat merasakan keuntungan menggunakan kondom. Lebih-lebih, rasa ingin menghilangkan kebiasaan menggunakan kondom (ingin mengurangi rasa senang menggunakan kondom, kekakuan pada saat menggunakannya, dan respon teman untuk menggunakan kondom) yang pada hakekatnya ditemukan untuk dapat membawa dan menggunakan kondom. Penemuan-penemuan ini menyarankan kampanye media masa yang fokus pada penerimaan masyarakat atas kondom, untuk lebih efektif daripada strategi tradisional yang menekankan pada infeksi dan sebabnya.
Teori motivasi perlindungan juga mempunyai maksud penting dalam intervensi yang selama ini masih belum dipelajari dengan cukup. Seperti contoh, jika keyakinan diri pada suatu target tertentu (penggunaan kondom, gerak badan atau latihan telah direkomendasikan sebagai populasi tertinggi bagi mereka yang kampanyenya sudah dikembangkan, ketetapan informasi yang menambah kerentanan atau kekuatan seharusnya juga menambah motivasi perlindungan. Ketika keyakinan atau pertahanan diri rendah, itulah saat saat kebanyakan orang merasa tidak mampu menggunakan tenaga yang telah ada (diet, berhenti merokok), kerentanan atau kelemahan yang meningkat tidak harus meyakinkan minat penerima untuk menggunakan kekuatan. Dalam hal ini, informasi dimaksudkan pada perasaan penerima yang meningkat terhadap keyakinan diri untuk lebih efektif daripada pesan yang menekankan kelemahan. Modifikasi Perilaku Yang Mengganggu Kesehatan
Bagaimana kita bisa mempengaruhi masyarakat untuk mengabaikan pola perilaku yang mengganggu kesehatan dan menerapkan gaya hidup sehat? Pada dasarnya ada dua tahap pada modifikasi perilaku kesehatan. Tahap pertama meliputi bentuk dari tujuan untuk berubah; suatu individu harus diinformasikan tentang perilaku kesehatan dan harus diyakinkan untuk berubah. Ini bisa secara efektif dicapai dengan pembicaraan yang sedikit merayu. Tetapi, ada kalanya bujukan saja tidak cukup untuk mempengaruhi seseorang untuk berubah selamanya dalam pola-pola perilaku kesehatannya. Bahkan jika masyarakat menerima rekomendasi kesehatan pun, terkadang mereka mengalami kesulitan dalam bertindak pada jangka waktu tertentu. Tidak hanya karena pentingnya memotivasi masyarakat untuk berubah, mereka juga harus diajari bagaimana cara untuk berubah dan bagaimana cara mempertahankan perubahan.

Bagian selanjutnya akan membahas strategi modifikasi perilaku berdasarkan pada (1) rayuan atau bujukan dan (2) perubahan yang terencana dalam struktur perangsang (contoh; peningkatan perpajakan). Meskipun strategi-strategi ini selalu cukup untuk membujuk masyarakat untuk berubah, campur tangan klinik mungkin saja diperlukan dengan perilaku seperti penyalahgunaan bahan kimia atau makan berlebihan. Bagaimana pun, pembahasan tentang program-program terapi telah melebihi jangkauan dari pembahasan ini (lihat Stroebe & Stroebe, 1995).
Persuasi
Promosi kesehatan dan pendidikan sangat mengandalkan strategi kepercayaan atau rayuan. Dalam satu dekade baru-baru ini, penelitian pada rayuan telah didominasi oleh teori-teori kognitif dalam perubahan sikap. Teori-teori ini menggambarkan bagaimana sikap atau tingkah seseorang berubah dalam merespon pesan-pesan lisan yang komplek yang secara khusus terdiri dari posisi keseluruhan yang mendukung (contoh; sebuah rekomendasi kesehatan), dan satu atau lebih pendapat-pendapat yang dibentuk untuk mendukung posisi tersebut. Teori-teori kognitif rayuan yang terdahulu seperti model perespon kognitif yang menekankan pentingnya proses sistematis penerima pesan pada kandungan suatu pendapat. Mereka berasumsi bahwa jika suatu individu tidak mampu atau tidak termotivasi untuk mengurus kandungan dari suatu komunikasi, sedikit perubahan sikap akan terjadi. Malahan, teori-teori dual-proses telah berasumsi di bawah keadaan tertentu yang ditetapkan oleh model-model ini, masyarakat akan mengambil tindakan-tindakan paling mendasar daripada proses sistematik dari pendapat-pendapat yang terkandung dalam pesan. Teori-teori dual-proses ini dapat secara luas dipertimbangkan dari respon model kognitif. Meskipun penelitian sederhana pada teori-teori ini telah diadakan dalam konteks pendidikan kesehatan, kami akan mencoba mendemonstrasikan pentingnya mereka untuk wilayah kesehatan.
Model Respon Kognitif: Sebuah Teori Proses Sistematik
Model respon kognitif Greenwald dan beberapa universitas (misalnya Greenwald, 1968; Petty, Ostrom & Brock, 1981) memperoleh namanya dari asumsi utama dari teori ini, di mana ini bukan pendapat-pendapat, tetapi pemikiran-pemikiran dan respon-respon kognitif penerima bisa dihasilkan ketika mendengarkan percakapan yang menengahi rayuan. Greenwald dan beberapa universitas menyarankan ketika masyarakat menerima percakapan yang membujuk, mereka menghubungkan informasi yang terkandung di dalam penjelasannya dengan pengetahuan yang mereka punya. Bahkan mereka juga mempertimbangkan materi baru yang tidak terkandung di dalam percakapan. Jika ada hal-hal baru, pemikiran pembangkit diri setuju dengan posisi yang diambil dari percakapan tersebut, perubahan sikap akan memberi hasil. Jika mereka menyangkal pesannya atau mendukung posisinya daripada orang yang dianjurkan, percakapan tersebut tidak akan dipercaya dan mungkin akan menimbulkan efek boomerang (perilaku berubah pada arah yang berlawanan dengan yang dianjurkan). Meskipun sejumlah faktor-faktor mempengaruhi apakah penerima-penerima pesan merespon dengan pemikiran baik atau sebaliknya, kualitas penjelasan-penjelasan yang terkandung dalam percakapan yang meyakinkan (contoh: percakapan yang beralasan baik, kekurangan dari suatu kesalahan logika, konsisten dengan pengetahuan yang tersedia) telah dibuktikan sebagai faktor yang dapat diandalkan dari suatu valensi (seperti positif atau negatif) dari pemikiran-pemikiran yang relevan yang ditimbulkan oleh penerima.
Pengaruh dari suatu komunikasi atau percakapan tidak hanya bergantung pada valensi (contoh: baik vs tidak baik) dari respon-respon ini, tetapi juga bergantung pada luasnya pengetahuan yang digunakan penerima dalam menggunakan pemikiran yang relevan. Berdasarkan model respon kognitif, tingkatan yang digunakan oleh individual dalam pemikiran pesan yang relevan bergantung pada motivasi dan kemampuan mereka dalam berpikir tentang penjelasan yang terkandung dalam sebuah pesan. Jika masyarakat sangat termotivasi untuk berpikir tentang pesan dan jika mereka mampu memproses suatu penjelasan, pemikiran pesan yang relevan akan dihasilkan daripada jika suatu individu tidak termotivasi atau tidak bisa melakukannya. Sebagai contoh, anggap saja ada suatu program di radio dimana orang-orang yang melakukan diet mendiskusikan resiko kesehatan yang akan didapat dengan menjadi orang yang berlebihan berat badan dan menyarankan beberapa strategi untuk mengurangi berat badan. Dikarenakan para pendengar yang mempunyai masalah berat badan dirasa termotivasi untuk memikirkan penjelasan-penjelasan ini daripada mereka yang mempertahankan kelangsingan tubuh tetapi tidak membatasi makanan, siapa yang terlebih dulu mendengarkan, mereka harus merespon dengan pemikiran yang lebih relevan daripada mereka yang belum mendengarkan. Dengan kata lain, jika pendengar mendengarkan radio di tempat privasi mereka dengan radio berkualitas tinggi, mereka seharusnya lebih bisa memproses pesannya daripada mereka yang mendengarkan radio di mobil mereka dengan stasiun yang berisik atau penumpang-penumpang laki-laki yang sedang berbincang-bincang.
Menurut model respon kognitif, faktor-faktor yang meningkatkan perluasan suatu proses seharusnya mempertinggi pengaruh kualitas penjelasan pada perubahan sikap, mengingat faktor-faktor yang mengurangi perluasan suatu proses yang seharusnya mengurangi pengaruh kualitas penjelasan. Jika suatu penjelasan yang berkualitas tinggi terkandung di dalam suatu pesan dan menghasilkan pemikiran yang baik, maka penerima-penerima yang lain berpikir tentang pesan ini, pemikiran yang lebih baik yang seharusnya mereka munculkan, dan selebihnya mereka harus diyakinkan. Di samping itu, saat penerima berpikir tentang penjelasan yang berkualitas rendah yang mengakibatkan pemikiran negatif, mereka juga perlu diyakinkan. Model memprediksi interaksi antara faktor-faktor pemikiran valensi (kualitas penjelasan) dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses motivasi atau kemampuan.

Model-model Dual Proses: Perluasan Dari Pendekatan Respon Kognitif
Model-model dual proses menambahkan proses kepercayaan yang kedua yang tidak mengandalkan perkiraan penjelasan yang terkandung di dalam suatu pesan. Teori-teori dual proses menganggap bahwa motivasi atau kemampuan untuk memproses penjelasan telah berkurang, di sekeliling area percakapan secara relatif menjadi faktor yang sangat penting dalam meyakinkan seseorang. Kita akan membahas dua model dual-proses: model heuristik sistematik Chaiken dan beberapa universitas dan kemungkinan perluasan model dari Petty, Cacioppo dan beberapa universitas (contoh Petty & Cacioppo, 1986a, b; Petty, Priester & Wegener, 1994).
Kedua model tersebut menganggap bahwa hasil dari percakapan persuasif dapat ditengahi oleh dua model dari proses informasi, yang membedakan pada perluasan yang mereka usahakan. Model heuristik sistematik membedakan proses sistematik dan heuristik. Mengingat konsep dari proses sistematik dan rute sentral, keduanya sama, menunjuk pada pemikiran pesan yang relevan yang membentuk dasar dari model respon kognitif, konsep dari proses heuristik dan rute peripheral berbeda di aspek-aspek yang penting. Proses heuristik mengandalkan aturan keputusan yang sederhana atau heurisik untuk menilai kebenaran suatu penjelasan atau argumen. Contohnya, sebagai konsekuensi atas permohonan untuk aturan yang sederhana yang dinyatakan oleh para ahli yang dapat dipercaya, penerima pesan mungkin saja sependapat dengan para ahli daripada mereka yang tidak tahu menahu tentang komunikasi yang baik. Peringatan kesehatan diberitahukan oleh ahli-ahli kesehatan yang lebih diterima dibandingkan dengan peringatan kesehatan yang diberikan oleh orang-orang yang tak berpengalaman. konsep rute peripheral lebih luas daripada heuristik proses dan mengandung semua bentuk pengaruh yang tidak mengandalkan penjelasan, seperti klasik dan pengaruh instrumen. Kedua model menganggap bahwa suatu individu akan menggunakan cara proses yang penuh usaha (contoh: proses heuristik atau rute peripheral) jika mereka tidak bisa atau tidak termotivasi untuk menggunakan pemikiran pesan yang relevan.

Model-model Evaluasi Empiris
Kemampuan untuk memproses dan perubahan sikap. Banyak penelitian kususnya pada pengaruh kemampuan prosesnya dalam proses sistematik telah fokus pada dua faktor: kebingungan dan pengulangan pesan. Dengan memanipulasi faktor-faktor ini bersamaan dengan kualitas penjelasan, beberapa penelitian mampu menaksir interaksi yang terprediksi antara arah atau kebaikan respon kognitif pada pesan (ditentukan oleh kualitas penjelasan) dan perluasan atau kuantitas respon kognitif (ditentukan oleh kebingungan atau pengulangan).
Ilustrasi yang baik pada strategi ini dapat ditemui dalam riset kebingungan. Kebingungan adalah faktor yang penting dalam penelitian persuasi, karena di kehidupan nyata, tidak seperti di laboratorium, suatu individu sering kali terganggu ketika mendengarkan percakapan yang persuasif. Jadi, ketika seorang ayah yang bermasalah dengan hatinya mencoba untuk mendengarkan program televisi yang merekomendasikan diet berkolesterol rendah, anak laki-lakinya mungkin saja memulai percakapan dengan ibunya atau menanyakan kepada ayahnya untuk menaikan uang sakunya. Penelitian awal pada masalah kebingungan telah menghasilkan hasil yang bertentangan, melalui beberapa pembelajaran yang menemukan pertambahan perubahan sikap dengan menambahkan kebingungan (Festinger & Maccoby, 1964), sedangkan yang lain meneliti akibat yang berlawanan (contoh Haaland & Vankatesan, 1968). Karena dari sudut pandang respon kognitif, kebingungan mengakibatkan berkurangnya kemampuan penerima untuk merespon suatu pesan, padahal respon dari penerima sangatlah diharapakan, variabilitas memberi variabilitas dari kualitas pesan diantara beberapa pembelajaran. Jadi dengan pesan yang berkualitas tinggi, mungkin sekali untuk menimbulkan pemikiran-pemikiran yang positif, kebingungan diharapkan mampu mengurangi perubahan sikap, kebingungan juga diharapakan bisa bertambah walaupun dalam pesan yang berkualitas rendah, seperti halnya ketika menghasilkan pemikiran-pemikiran yang tidak baik.
Daerah Perilaku Focal
Perjanjian Tinggi Kualitas pesan tinggi


Perjanjian Rendah Kualitas pesan rendah

Angka kilatan per menit
Gambar 5.3: Rata-rata nilai perilaku dalam hubungan dengan pesan dan tingkat distriksi. (Petty, Wells, & Brock, 1976, percobaan 2)

Perkiraan-perkiraan ini telah diuji di dua percobaan yang diadakan oleh Petty, Wells dan Brock (1976) yang memanipulasi keduanya baik kualitas penjelasan atau argumen dan kebingungan atau gangguan. Konsisten dengan beberapa perkiraan, bertambahnya kebingungan mengurangi kepercayaan pada komunikasi atau percakapan persuasif yang berkualitas tinggi tetapi dapat mempertinggi persuasi pada penjelasan yang berkualitas rendah (gambar 5.3). penyokong tambahan untuk asumsi yang baik menambah dan mengurangi persuasi yang disebabkan oleh gangguan atau kekacauan yang datang dari pikiran yang selalu mendaftar tugas, yang mengizinkan para peneliti untuk mengakses perluasan dan valensi dari respon-respon kognitif yang ditimbulkan oleh suatu percakapan. Kebingungan atau kekacauan muncul untuk mengurangi pemikiran-pemikiran negatif penerima dalam merespon penjelasan yang berkualitas rendah dan mengurangi jumlah pemikiran yang baik dalam merespon versi pesan berkualitas tinggi.
Meskipun akibat dari kebingungan adalah untuk mengurangi pengolahan kemampuan, pengulangan pada pesan mempunyai pengaruh yang bertentangan. Pengulangan pada pesan memberi waktu suatu individu untuk memikirkan pesan tersebut. Pengulangan seharusnya berakibat pada penambahan perubahan sikap dalam berkomunikasi yang terdiri dari penjelasan yang berkualitas tinggi, dan bukan pengurangan perubahan untuk komunikasi yang berkualitas rendah. Meskipun ada penyokong empiris untuk hipotesis ini, ada juga tanda bahwa pengaruh positif dari suatu pengulangan penjelasan yang baik sangatlah dibatasi oleh pengaruh kebosanan. Terlalu sering pengulangan mengakibatkan penolakan meskipun dalam penjelasan yang baik atau berkualitas tinggi (Cacioppo & Petty, 1979, 1985).
Motivasi Untuk Memproses dan Perubahan Sikap
Motivasi untuk berfikir tentang pendapat-pendapat yang terdapat dalam pesan telah sering dipelajari dengan manipulasi keterlibatan individu; (Eagly dan Chaiken, 1993). Dalam konteks dari komunikasi kesehatan, keterlibatan individu di dalam sebuah permasalahan perilaku yang akan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai kekebalan pribadi. Kita akan membahas hal ini dari harapan para pengemudi akan lebih termotivasi untuk mengolah informasi keselamatan berkendara daripada non pengemudi, dan individu yang tahu bahwa mereka memiliki kolesterol tinggi akan lebih tertarik pada informasi tentang diet dan penyakit jantung daripada orang-orang yang tidak memiliki alasan untuk khawatir tentang tingkat kolesterol mereka.
Sebuah studi klasik menilai dampak dari keterlibatan individu pada pemprosesan pesan yang dikemukakan oleh Petty, Cacioppo dan Goldman (1981). Pada penelitian ini, sumber yang dapat dipercaya (credibility) telah dimanipulasi di dalam pertimbangan untuk kualitas pendapat yang berguna untuk menguji prediksi proses ganda yang merupakan dampak isyarat sekeliling yang meningkat sesuai dengan penurunan dampak kualitas pendapat. Sumber credibility dari peripheral ceu yang memberikan kesempatan pada individu – individu untuk membentuk sebuah opini pada sebuah validitas posisi yang direkomendasikan pada sebuah pesan tanpa harus meneliti pendapat dengan serius. Berdasarkan respon kognitif dan model proses ganda akan memiliki harapan lebih baik yang mempengaruhi subjek untuk menjadi lebih berpengaruh oleh kualitas pendapat dari pada ketidakpedulian individu-individu. Dalam penambahan model proses ganda akan menganggap bahwa ketidakpedulian individu-individu seharusnya terpengaruh lebih kuat oleh sumber kredibilitas daripada keterlibatan subjek secara menyeluruh. Hasil didukung kuat oleh kedua prediksi ini.
Walaupun tidak dibahas secara tipikal didalam konteks teori ini, ketakutan juga berperan dalam proses manipulasi motivasi. Faktor takut yang sering digunakan di wilayah pendidikan kesehatan yang terdiri dari informasi yang membentuk sebuah ancaman kesehatan pribadi dan biasanya diikuti oleh beberapa rekomendasi yang jika diterima akan mengurangi atau menghindari bahaya (untuk melihat penelitian klasik lihat Leventhal, 1970). Dalam sebuah studi tipikal dari dampak faktor takut, para perokok dengan ancaman bahaya yang ringan akan dengan mudah terlihat pada infomasi faktual tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Pada ancaman yang lebih tinggi, mereka akan menambahkan sebuah pertunjukan film tentang operasi paru-paru. Dari kedua kondisi tersebut, sebuah rekomendasi akan diberikan bahwa konsekuensi negatif bisa saja dihindari jika subjek berhenti merokok. Sebagian besar dari percobaan pada dampak faktor menemukan bahwa kepercayaan akan meningkat dengan tingkatan ancaman yang disertakan dalam komunikasi (lihat Boster dan Mongeou,1984; Sutton,1982). Efek ini akan mempertahankan tujuan tingkah laku sebaik tingkah laku yang sebenarnya, tetapi cenderung lebih kuat untuk tujuan.
Sebagian besar penelitian dari faktor takut diawali sebelum penerapan teori proses ganda, jadi teori ini telah telah jarang digunakan pada permasalahan ini. Dari sebuah perspektif proses ganda, seseorang akan memprediksikan kesejukan itu untuk ancaman menengah seharusnya meningkatkan motivasi seseorang yang merasakan dirinya menjadi terlihat gampang dilukai, menjadi dilihat lebih cermat dari sebuah pesan, dan hasil itu diketahui dalam proses yang lebih sistematis. Hal ini seharusnya meningkatkan dampak keyakinan dari komunikasi secara terus menerus dari pendapat yang berkualitas tinggi tetapi menurunkan keyakinan itu bagi pendapat yang memiliki kualitas rendah. Dengan tingkat rasa takut yang tinggi, ketegangan emosi akan memungkinkan terjadinya gangguan kapasitas seseorang untuk memproses secara sistematis dan mereka seharusnya menjadi lebih percaya pada isyarat sekeliling. Dukungan menengah prediksi ini datang dari penelitian oleh Jepson dan Chaiken (1990) dan Gleicher dan Petty (1992).

Daerah Perilaku Focal
Andal

Sumber ahli

Sumber tidak ahli
Tidak andal


Andal
Argumen-argumen yang kuat


Tidak andal Argumen-argumen yang lemah


Gambar 5.4: Keterlibatan dampak interaksi, sumber yang ahli dan kualitas argumen pada perilaku-perilaku komunikasi akhir (Petty, Cacioppo, & Goldman, 1981).

Ketahanan Perubahan Sikap
Perubahan sikap diperoleh melalui metode yang berbeda-beda dari kepercayaan seharusnya berbeda dalam ketahanannya. Permasalahan tingkat tinggi yang berhubungan dengan aktivitas kognitif membutuhkan tindkan secara berkala dari sebuah tingkah laku dan terhubung dengan struktur pengetahuan (Petty dkk, 1994). Aktivitas ini seharusnya meningkatkan jumlah jaringan antara bentuk kepercayaan dari sebuah tingkah laku yang berbeda dan membuat skema dari perilaku lebih konsisten secara internal dan hal ini membuat lebih bisa bertahan dan lebih kebal terhadap pendapat sanggahan.dalam mendukung alasan tersebut, sebuah penelitian mendemosntrasikan bahwa tingkah laku karakter di mediasi oleh proses yang sistematis (seperti rute utama) lebih bisa bertahan dari pada perubahan yang di barengi dengan gagasan yang memiliki sedikit relevansi terhadap permasalahan (misalnya Haugty dan Patty, 1992; Petty dan Cacioppo,1986 a, b).

Pengolahan objektif melawan Prasangka: Sebuah masalah yang tak terpecahkan.
Sejauh ini kita telah menggambarkan informasi proses sikap dasar/pokok berubah menjadi sebuah obyek relatif dan aktivitas non-bias. Model kemungkinan elaborasi maupun versi asli dari model sistem heuristik mendalilkan sebuah motif tunggal: Orang-orang termotivasi untuk memegang sikap yang baik/benar/tepat. Motivasi yang tepat ini menentukan tujuan proses yaitu menentukan validitas dari pesan-pesan persuasif. Meskipun Petty, Cacciopo dkk. sebelumnya juga telah mendiskusikan ide dari pengolahan non-bias dalam konteks model kemungkinan elaborasi, di sini kita akan fokus pada pekerjaan Chaiken dkk.(1989) yang telah berhasil mengelola secara sistematis gagasan dari pengolahan bias ke dalam model dual-proses revisi mereka.
Satu kelas proses informasi cenderung bias telah ditandai sebagai motivasi pertahanan oleh Chaiken dkk. (1989). Tujuan pengolahan motivasi pertahanan adalah untuk mengkonfirmasikan validitas plilihan posisi sikap. Konsepnya sangat penting dalam konteks komunikasi kesehatan. Karena motivasi pertahanan cenderung dibangkitkan oleh komunikasi-komunikasi sehat yang sangat mengancam. Dalam penerjemahannya ketika sang penerima merasa tidak mampu atau tidak berniat untuk meninggalkan rangkaian perilaku yang sangat nyaman. Pertahanan termotivasi oleh perseptor yang diasumsikan menggunakan heuristik yang sama seperti seseorang yang termotivasi secara akurasi, tetapi menggunakan mereka secara selektif agar mendukung posisi perilaku yang diinginkan. Proses sistem motivasi pertahanan adalah kemiripan selektif, pemberian banyak perhatian pada informasi tentang konsistensi perilaku. Proses ketiga tidak didiskusikan oleh Chaiken dkk.(1989) adalah kurangnya motivasi penerima untuk menyimak dengan teliti pesan-pesannya. Hingga, para perokok yang terlihat membedah pada hasil penelitian bahaya merokok yang dilakukan akhir-akhir ini, mungkin tidak berniat untuk memikirkan pesan-pesan ini, khususnya jika mereka telah berulang kali gagal berupaya untuk berhenti merokok.
Meskipun pengolahan bias belum menerima perhatian kecil di penelitian pada teori-teori dual-proses, dalil pengolahan motivasi-pertahanan sejalur dengan salah satu teori klasik dari psikologi sosial, yang dinamakan teori Disonansi (Festinger, 1957,1964). Menurut teori disonansi, individu-individu yang telah membuat keputusan berada dalam daerah ketegangan permusuhan (disebut “disonansi”) dan termotivasi untuk menguranginya. Disonansi terjadi kapanpun saat seseorang telah membuat keputusan, karena aspek-apek negatif alternatif yang dipilih tidak seimbang dengan keadaan ketika sedang memilih hal tersebut (sebagai contoh kognisi disonansi). Semakin besar jumlah dan pentingnya kognisi yang disonansi, semakin besar daerah permusuhan dari disonansi dan dengan demikian mengurangi tekanan untuk itu. Salah satu cara untuk mengurangi disonansi kognitif keputusan berikut adalah mencari informasi secara selektif untuk keputusan-konsonan dan untuk menghindari kontradiktif informasi (untuk tinjauan lihat Frey, 1987).
Jadi, meskipun seorang perokok seharusnya lebih termotivasi daripada non-perokok untuk memproses informasi tentang resiko dari merokok, berdasarkan teori-teori dual-proses versi terbaru, teori disonansi akan terprediksi bahwa para perokok akan berniat menghindari seperti informasi, karena hal itu akan meningkatkan dissonansi mereka. Jika penyingkapan pada suatu informasi tidak dapat dihindari, teori disonansi akan terprediksi, para perokok akan terikat dalam tipe pengolahan motivasi pertahanan yang disarankan oleh model sistem-heuristik yang direvisi.
Implikasi untuk Perencanaan Intervensi
Menurut perspektif dual proses, masalah utama dalam pembentukan kampanye persuasi adalah apakah target audien (penonton/pendengar) mempunyai kapasitas untuk mengikat pengolahan secara terperinci argumen-argumen yang digunakan di dalam komunikasi dan apakah mereka adalah para penerima komunikasi, atau dapat termotivasi untuk mengikat pengolahan yang sistematis. Hanya jika orang dapat diasumsikan untuk mempunyai keduanya yaitu kemampuan dan motivasi untuk memahami. Meneliti dan mengevaluasi argumen-argumen terkandung dalam sebuah komunikasi, apakah hal ini akan terlihat berharga saat mengeluarkan usaha pada pengembangan pemikiran, argumentasi yang terperinci. Pengembangan seperti sebuah argumentasi seharusnya berdasarkan pada analisis yang hati-hati dari motif-motif dasar suatu rangkaian tingkah laku yang sehat.
Jika orang tidak mampu atau tidak termotivasi untuk terlibat pengolahan sistematis, orang dapat mengandalkan mekanisme yang tidak tergantung pada argumentasi untuk efektivitas mereka. Orang dapat menggunakan pengkondisian klasik, pengolahan heuristik, atau mekanisme perangkat lain untuk mempengaruhi penonton. Tidak ada yang kebetulan bahwa kebanyakan dari iklan-iklan terkenal untuk rokok-rokok, parfum-parfum atau kacamata sangat bergantung pada rute perifer untuk persuasi. Bagaimana pun juga, keburukan dari hal ini adalah bahwa efeknya cenderung kurang bertahan. Untuk komunikasi yang paling sehat, perbaikan jangka panjang dari perubahan tata sikap adalah hal yang terpenting. Bagaimana pun juga hal ini akan sangat berharga mengembangkan strategi yang ditujukan pada peningkatan pengolahan motivasi atau kemampuan. Pada kasus minim motivasi, orang dapat menggunakana model keyakinan sehat atau teori motivasi perlindungan untuk berusaha mencari tahu mengapa individu tidak termotivasi untuk berpikir tentang masalah kesehatan. Informasi ini dapat digunakan dalam bentuk stategi untuk meningkatkan motivasi. Dalam kasus defisit pengolahan kemampuan, sebagai contoh karena rendahnya tingkatan pendidikan atau permasalahan bahasa pada kasus bahasa asing minoritas, pesan sebaiknya harus di tata ulang dengan cara lain yang dapat dimengerti oleh grup minoritas tersebut.
Dibalik Persuasi : Pengubahan Struktur Insentif
Kesulitan utama dalam mempengaruhi orang meninggalkan kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok atau minum terlalu banyak alkohol adalah mereka melibatkan diri untuk menolak kecanduan hanya agar dapat memenangkan penghargaan atau untuk menghindari hukuman terburuk dalam waktu yang ditentukan. Salah satu cara untuk menghindari masalah ini adalah untuk meningkatkan pungutan terhadap perilaku yang diberikan dengan perpajakan atau sanksi legal. Dengan meningkatkan pajak pada tembakau dan minuman alkohol, pemerintah telah sukses dalam penghambatan perilaku yang tidak sehat seperti merokok, dan minum alkohol yang berlebihan (lihat Stroebe & Stroebe, 1995). Sebuah tinjauan dari studi ekonomi dilakukan pada beberapa negara menyimpulkan bahwa, semua yang lain tetap sama, kenaikan harga alkohol umumnya menyebabkan jatuhnya konsumsi alkohol dimana peningkatan pendapatan konsumen umumnya menyebabkan kenaikan konsumsi alkohol (Bruun dkk, 1975). Terdapat fakta serupa untuk rokok, meski hanya sedikit penelitian yang berakar dari isu ini (Walsh dan Gordon, 1986). Akhirnya, ketika kampanye bujukan gagal membujuk pengemudi menggunakan sabuk pengaman, hukum yang mrmbuat kewajiban penggunaan sabuk pengaman, menghasilkan perubahan perilaku penting dalam beberapa bulan (Fhaner dan Hane, 1979).
Manfaat strategi yang mempengaruhi perilaku melalui perubahan dalam struktur dorongan kelihatannya membatasi hak kecenderungan berubah dalam harga yang diberikan perilaku untuk mempengaruhi sikap secara pokok terhadap pembelian produk. Selanjutnya, meski kenaikan harga yang ditandai dari harga minuman beralkohol mungkin menyebabkan masyarakat membeli alkohol lebih sedikit, mereka mungkin meminumnya ketika mereka tua karena minumannya gratis. Bagaiamanapun juga, setidaknya ada 3 kondisi dibawah ini yang meyebabkan dorongan perubahan perilaku yang menyebabkan perubahan umum lebih banyak: 1. Ketika habitat stabil dan terus berlangsung stabil meski ketiadaan dorongan. 2. Dimana harapan menghargai konsekuensi perilaku yang diberikan menjadi tidak realistis. 3. Ketika dorongan penyebab perilaku yang diberikan menimbulkan ketidakcocokan.
Contohnya, dengan sabuk pengaman yang sepertinya membuat seseorang menggunakan sabuknya lalu hal tersebut menjadi kebiasaan, dorongan tidak lagi diperlukan untuk memelihara perilaku tersebut. Selanjutnya, setelah ditimbulkan melalui persetujuan legal untuk penggunaan sabuk pengaman, seseorang mungkin menyadari bahwa pengalaman ini kurang lebih menyenangkan daripada yang mereka antisipasi. Laporan yang memungkinkan mengenai penemuan Fhaner dan Hane (1979) menunjukkan bahwa pengenalan penggunaan sabuk pengaman di Swedia, membawa lebih banyak opini positif daripada yang menuntut. Bagaimana pun juga, mengacu pada peningkatan ketidakcocokan, perubahan sikap mungkin saja terjadi ketika seseorang yang menjadi penyebab, melalui persetujuan legal agar terikat pada perilaku ketidakcocokan sikap, mengalami konsekwensi negatif yang mereka antisipasi.
Menurut teori ketidakcocokan negatif, terikat pada perilaku ketidakcocokan sikap bisa menimbulkan ketidakcocokan kognitif, tingkat yang bertolak belakang dengan peningkatan dimana mendorong seseorang untuk menguranginya (Festinger, 1957). Sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya (hal 127), kapan pun seseorang memilih antara kursus alternatif, selalu ada beberapa informasi (kesadaran ketidakcocokan) yang akan meluruskan perbedaan pilihan. Intensitas ketidakcocokan (dan juga dorongan untuk menguranginya) tergantung pada proporsi telatif dari kesadaran kesesuaian dan ketidaksesuaian dalam sistem kognitif seseorang. Karena penghargaan diantisipasikan untuk (atau persetujuan yang dihindari) perilaku ketidakcocokan sikap menghubungkan kesadaran kesesuaian, teori memprediksi bahwa ketidaksesuaian bisa menjadi lebih besar ketika penghargaan diantisipasikan untuk perilaku ketidakcocokan sikap lebih kecil. Satu cara agar orang bisa mencoba mngurangi ketidaksesuainnya ialah dengan mengubah sikap dalam konsistensi langsung yang lebih besar dengan perlaku mereka. Dorongan untuk melakukannya harus lebih besar, lebih besar daripada ketidaksesuaian.
Meskipun prediksi ketidaksesuaian dari perubahan sikap yang lebih besar ketika tingkat penghargaan kecil ditawarkan untuk perilaku ketidaksesuaian sikap berbanding terbalik dengan intuisi dan kelihatannya berlawanan dengan prinsip teori pemulihan kekuatan, hubungan negatif antara jumlah penghargaan dan sikap ini telah didemonstrasikan dalam pembelajaran klasik oleh Festinger dan Carlsmith (1959). Dalam eksperimen ini, subjek yang menampilkan tugas mandul akan ditanyai dengan preteks (teks pendahuluan) agar memberitahu subjek selanjutnya bahwa tugasnya dangat menarik. Mereka ditawari 20 atau 1 dolar untuk berbohong. Ukuran ketergantungan diambil setelah kebohongan yang diberitahukan sesuai dengan tingkat nilai yang menarik dalam tugas. Senada dengan prediksi, subjek yang ditawari penghargaan kecil untuk berbohong terlihat lebih memiliki perilaku dan sopan santun daripada yang menerima penghargaan lebih besar. Meski penemuan ini berkali-kali diulang (Eagly dan Chaiken, 1993), penemuan berikutnya juga menyatakan sejumlah kondisi terbatas. Khususnya hubungan negatif antara besarnya penghargaan dan jumlah perubahan sikap yang terjadi hanya ketika subjek merasa bebas menolak terikat pada perilaku ketidakcocokan sikap dan ketika perilaku ini memiliki konsekwensi negatif untuk mereka atau orang lain.
Sebuah aplikasi tipuan dari teori ketidaksesuaian untuk pencegahan masalah AIDS melalui remaja dewasa yang aktif seksual telah dilaporkan secara berurutan oleh Stone, Aronson, Crain, Winslow dan Fried (1994). Pengarang-pengarang tersebut membuat sebagian subjek, yang telah ditanyai atau belum) untuk mengembangkan percakapan bujukan tentang AIDS dan seks yang lebih aman, yang digambarkan di depan video kamera, kesadaran atas kesalahan mereka di masa lalu tentang penggunaan kondom. Kesadaran dicapai dengan menanyai subjek untuk menggambarkan siklus kesalahan mereka di masa lalu mengenai penggunaan kondom. Di akhir pembelajaran ini, semua subjek ditawari kesempatan untuk membeli kondom dalam rangka mengurangi tingkat penyakit di pusat kesehatan siswa. Kewaspadaan bahwa seseorang mungkin gagal di masa lalu dalam menggunakan kondom tidak sesuai dengan pembicaraan publik dalam kemurahan penggunaan kondom dan seharusnya diproduksi dengan tidak sesuai. Diprediksi bahwa subjek yang menyiapkan pernyataan umum serta waspada akan kegagalan di masa lalu untuk terikat dalam seks aman yang mengurangi keengganan mereka dalam membeli kondom. Sesuai dengan prediksi ini, lebih dari 80% subjek dalam kondisi keengganan tinggi membawa kondom sebagai peebandingan 30-40% dalam kondisi lain.
Dampak dari dorongan pada pemeriksaan sikap oleh Festinger dan Carlsmith (1959) terjadi ketika seseorang ditawari dorongan untuk berperilaku dalam cara yang berbeda dengan sikapnya. Selanjutnya, jika tawaran asuransi kesehatan yang meremehkan pengurangan ongkos oleh pejoging regular mendorong beberapa orang yang menetap untuk mengatasi keengganan dan mulai berjoging, hasil ketidaksesuaian ini menyebabkan mereka mengembangkan sikap yang lebih positif untuk berjoging. Bagaiamana pun juga, efek positif ini mungkin dibalik keseimbangannya oleh ketidakingingan efek negatif seperti penawaran mendirikan komunitas joging. Terdapat beberapa fakta yang meyakini bahwa penawaran dorongan untuk bekerja secara positif menilai perilaku mampu menghasilkan perilaku negatif terhadap aktivitas tersebut (Lepper, Greenem dan Nisbett, 1973). Hal yang disebut efek pengadilan ini terjadi ketika seseorang dihargai untuk terikat dalam perilaku yang telah mereka temukan secara intrinsik menarik dan menyenangkan. Sikap positif terhadap kebiasaan yang terus digali dengan insentif positif, bisa jadi dalam bagian karena orang-orang menghubungkan kebiasaanya untuk insentif daripada untuk ketertarikan hakiki pada aktifitasnya (lihat Bem, 1972).
Ringkasan dan Kesimpulan
Pada bagian sebelumnya telah didiskusikan tentang kekuatan dan kelemahan dari penggunaan pesan-pesan yang meyakinkan sebaik perubahan dalam struktur insentif sebagai strategi campur tangan dalam perubahan kebiasaan kesehatan. Pesan-pesan yang meyakinkan bekerja sangat baik dengan individu yang termotivasi dan mampu untuk mengolah komunikasi yang meyakinkan, akan tetapi beberapa dari grup target yang paling menjanjikan untuk pendidikan kesehatan biasanya lebih sering tidak termotivasi dan kadang-kadang juga tidak dapat untuk memprosesnya. Walaupun demikian penggunaan dari insentif untuk mempengaruhi kebiasaan khususnya menguntungkan di bawah kondisi ini, strategi ini adalah persoalan keterbatasan. Demikian, sanksi legal hanya dapat digunakan untuk kebiasaan yang dapat diamati didepan masyarakat umum. Ketika keefektifan kebiasaan dapat diperkenalkan di depan masyarakat umum, seperti penggunaan sabuk pengaman, atau kebut-kebutan, sanksi akan sulit diadakan apabila kebiasaan memohon untuk mempengaruhi sulit untuk dimonitor. Bagaimana pun juga, kegiatan monitoring tidak diperlukan untuk modifikasi kelakuan yang mengandalkan perubahan harga. Dengan demikian, walaupun kebanyakan minum alkohol telah dilakukan sendiri dan tidak dapat diamati, fakta bahwa mengizinkan pengaruh minuman alkohol harus dibawa melewati dapat menaikan harga minuman keras.
Hal tersebut seharusnya menegaskan bahwa merubah struktur insentif atau dengan menggunakan seruan-seruan yang meyakinkan seharusnya tidak bisa dilihat sebagai strategi yang tepat dari sikap dan perubahan tingkah laku. Sesudah itu, keefektifan dari sanksi yang legal kemungkinan besar bergantung pada penerimaan dari hukum dan pandangan individual tentang pelanggaran hukum yang digabungkan dengan sanksi beresiko tinggi. Sebagai contoh, kemungkinan besar sedikit yang mengetahui tentang pengenalan pembuatan peraturan tentang sabuk pengaman yang diwajibkan tidak akan berjalan efektif apabila orang-orang tidak mau menerima peraturan tersebut tanpa kemauan mereka sendiri. Faktanya, tanpa kampanye yang meyakinkan yang dibuat agar diketahui masayarakat luas tentang penggunaan sabuk pengaman penting untuk mengurangi resiko dari terluka pada kecelakaan lalu lintas, tidak mungkin perkenalan dari sebuah peraturan telah dikerjakan dengan mudah secara politik.

Identifikasi dan Modifikasi dari Kebiasaan yang Merugikan Kesehatan
Pada bagian ini akan dibahas dua bagian dari kebiasaan yang merugikan kesehatan, merokok dan kebiasaan seksual yang beresiko, yang perubahan secara dramatisnya telah diamati selama 1 dekade terakhir. Meskipun terdapat perbedaan yang mencolok diantara kebiasaan tersebut, kedua kebiasaan ini memiliki persamaan yaitu hal tersebut telah dianggap sebagai konsekuensi kecil dari kesehatan hingga mereka akhirnya secara tiba-tiba menemukan bahwa hal tersebut merupakan faktor resiko utama dari penyakit-penyakit yang mematikan. Walaupun diawal informasi dari resiko kesehatan akibat merokok dan seks yang tidak aman telah cukup untuk mencapai perubahan kebiasaan yang utama, banyak sekali kaum minoritas masih melakukan kebiasaan yang beresiko tinggi ini. Semakin meningkatnya ketidakefektifan dari kampanye semata-mata didasarkan pada informasi resiko yang telah distimulasikan oleh penelitian psikologi sosial hingga menjadi faktor yang menentukan dari kebiasaan ini.
Kasus Merokok
Dampak Kesehatan yang Diakibatkan Dari Merokok
Merokok telah diidentifikasi sebagai salah satu sumber paling penting dari kematian dan keadaan yang tidak sehat yang seharusnya dapat dicegah di setiap laporan pemeriksaan umum Amerika yang dibuat sejak tahun 1964. Hal itu telah diperkirakan rata-rata setiap 5,5 menit sebuah nyawa hilang dari setiap rokok yang dihisap dan kematian dari merokok di Amerika melebihi 320.000 jiwa tiap tahunya (Komunitas Kanker Amerika, 1986). Sebagai perbandingan atas jiwa yang hilang, industri pesawat terbang harus memperagakan 3 kecelakaan pesawat jumbo jet setiap hari dalam setahun (Walsh dan Gordon).
Tiga puluh hingga 40 persen dari kematian setiap tahunnya berasal dari penyakit jantung koroner (Kasus utama dari kematian di sebagian besar negara industri) dapat diakibatkan oleh merokok (Fielding, 1985). Secara keseluruhan, kematian yang diakibatkan oleh penyakit jantung di Amerika 70 persen lebih besar berasal dari kalangan perokok daripada golongan bukan perokok (Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika, 1985). Hal serupa telah dilaporkan dari Kanada, Inggris, Skandinavia, dan Jepang (grup riset proyek poling, 1978).
Hal kedua yang menjadi penyebab kematian utama di Amerika dan bangsa industri persemakmuran adalah kanker. Kanker paru-paru bertanggung jawab atas kebanyakan kematian daripada jenis kanker lainya. Hal tersebut di Amerika terhitung 25 persen kematian atas kanker dan 5 persen dari seluruh total kematian (Fielding, 1985). Antara 80 sampai 85 persen kematian atas kanker paru-paru diakibatkan oleh merokok (Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika, 1982). Bagaimana pun juga, kontroversi dari pandangan pada umumnya, jantung koroner dan bukanya kanker paru-paru adalah penyebab utama dari kematian akibat merokok, karena lebih banyak orang meninggal akibat penyakit jantung daripada kanker paru-paru.
Sakit juga sangat lebih tinggi terjadi di kalangan perokok daripada di kalangan bukan perokok. Saat ini perokok dilaporkan menderita lebih banyak bronchitis kronis, emphysema, sinusitis kronis, radang dinding lambung, dan penyakit jantung arterios clerotic daripada orang-orang yang tidak pernah menghisap rokok (Swartz, 1987). Data dari survei wawancara kesehatan nasional yang diselenggarakan di Amerika tanhun 1974 memberikan kesan bahwa lebih dari 81 juta kelebihan hari kerja hilang dan lebih dari 145 juta kelebihan hari akibat gangguan tidur terjadi akibat merokok (Schwartz, 1987).
Resiko sakit dan kematian akibat pipa dan cerutu yang tidak dihisap terlalu dalam adalah lebih kecil daripada rokok, akan tetapi resiko tersebut tetap lebih tinggi dari pada orang-orang yang tidak merokok (Fielding, 1985). Sudah sangat jelas apakah perokok yang menggunakan rokok filter memiliki resiko lebih kecil dari sakit dan kematian daripada perokok yang memakai rokok yang tidak berfilter. Walaupun terdapat beberapa bukti perubahan dari pemakaian rokok tidak berfilter ke rokok berfilter memiliki resiko yang lebih rendah dari terkena kanker paru-paru (Lubin, Blot, Berrino dkk, 1984) hal tersebut tidak terlihat mengurangi resiko perkembangan penyakit jantung (Fielding, 1985). yang paling mengejutkan, studi skala besar yang dilakukan di Jerman menemukan bahwa perokok yang mengkonsumsi rokok berfilter meninggal rata-rata 4 tahun lebih cepat daripada perokok yang mengkonsumsi rokok tidak berfilter (Kruger dan Schmidt, 1989).
Perokok tidak hanya membahayakan kesehatan dirinya sendiri, akan tetapi juga membahayakan kesehatan orang lain. Data epidemiologikal memberi kesan bahwa pemakaian rokok di saat kehamilan mungkin berhubungan dengan aborsi spontan, kelahiran prematur, berat bayi yang kurang saat dilahirkan dan kematian bayi di hari pertama kelahiranya (Kaplan, 1988; McGinnis dkk, 1987). Ada juga bukti penilaian kematian dari kanker paru-paru di antara orang-orang yang tidak merokok yang tidak merokok secara disengaja atau yang disebut perokok pasif mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena kanker paru-paru (baca Stroebe dan Stroebe, 1995). Di Amerika, hasil penemuan telah menuju pengenalan lebih jauh tentang pembatasan lebih keras untuk tempat-tempat dimana tembakau dapat dihisap (Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika, 1986). Pembatasan serupa sekarang telah menjadi pertimbangan di Inggris setelah hadiah akibat kerugian diberikan kepada seorang pegawai yang telah duduk di dekat 7 rangkaian perokok selama 14 bulan dan secara permanen mempengaruhi kesehatannya (Independent Minggu, 31 Januari 1993).

Kampanye yang Meyakinkan dan Modifikasi Perilaku
Di tahun 1964 seorang ahli bedah umum asal Amerika mempublikasikan laporan pertama resiko kesehatan dari merokok dan sejak saat itu dimulai “Perang Terhadap Rokok” yang masih menjadi perang hingga saat ini. Data dari perubahan konsumsi rokok per kapita di Amerika antara setengah abad ini secara pasti memberikan kesan kampanye anti rokok ini memberikan dampak yanglebih besar (Gambar 5.5). masih, walaupun dengan membersihkan data seperti itu, tetap sulit untuk menentukan berapa banyak dari penurunan kebiasaan merokok harus dihubungkan ke kampanye media, studi eksperimental adalah dibutuhkan, di dalam sebuah grup yang terdiri dari beberapa orang yang terbuka terhadap kampanye ketika grup perbandingan lainya tidak. Hal ini menunjukan bahwa grup eksperimental mempunyai keunggulan dalam rata-rata penghentian di atas grup yang dikontrol, perbedaan ini dapat dihubungkan ke dalam komunikasi.
Untungnya, sejumlah data tersedia dari beberapa studi komunitas utama yang bertujuan pada pengurangan rata-rata merokok sebagai bagian dalam kampanye mereka untuk mengurangi resiko penyakit jantung koroner. Penemuan dari studi tentang penghentian dari kebiasaan merokok ini yang telah menjadi ringkasan dalam sebuah laporan ahli bedah umum di Amerika baru-baru ini (1984; lihat juga tabel 5.1). Kemungkinan komunitas yang paling sukses dalam campur tangan telah dicapai oleh Proyek Karelia Utara yang diadakan di Finlandia utara (Puska dkk, 1985). Sebagai bagian dari proyek ini, sebuah kampanye edukasi intensif telah dilakukan untuk mengurangi kebiasaan merokok. Propinsi tetangga dari Kuopio telah ditunjuk sebagai grup kontrol yang tidak terlihat di kampanye. Pelaporan sendiri dari jumlah rokok yang dikonsumsi tiap hari jatuh kepada lebih dari sepertiga kalangan laki-laki di Karelia Utara, berbanding pada hanya 10 persen pengurangan di kalangan laki-laki dalam kontrol komunitas. Kampanye tidak memberikan efek kepada rata-rata perokok wanita.
Walaupun pelaporan sendiri dari rata-rata rokok yang dihisap dapat berubah karena efek keinginan sosial, hal ini mendorong 24 persen pengurangan kematian terhadap penyakit jantung telah diteliti di Karelia Utara sebanding dengan 12 persen pengurangan di bagian lain negara tersebut (Puska dkk, 1985). Selanjutnya lihat Gambar 5.5. di akhir tulisan ini.

Perilaku yang Menbahayakan Kesehatan
Tabel 5.1 Pengurangan rokok yang diamati di komunitas studi utama
Studi Tahun Persen Bersih Pengurangan Dalam Merokoka
Studi Komunitas Stanford 3 3 15-20
Studi Pantai Utara Australia 3 15
Program Riset Nasiona Swiss 3 8
Proyek Karelia Utara 10 25b
Studi Skala Besar Lainyac 2-10 5-25

a. Perbedaan atara persen pengurangan dalam proporsi perokok di campur tangan maksimum dibandingkan dengan kondisi kontrol.
b. Perbedaan atara persen pengurangan diantara jumlah dari rokok yang dihisap tiap hari diantara para pria.
c. Klinik dan tempat uji coba kerja. Uji coba rokok terhadap pegawai pemerintah London, Studi Goteborg, Studi Oslo, Kolaborasi uji coba WHO, dan uji coba campur tangan faktor resiko berganda.
Sumber: Diadaptasi dari Laporan Ahli Bedah Umum Amerika (1984)

Di komunitas studi terkenal yang lain, Komunitas Studi Stanford 3, hanya grup eksperimental yang menerima pasien secara tatap muka, instruksi intensif menambah untuk pembongkaran media mencapai pengurangan signifikan saat dibandingkan dengan grup kontrol (Farquhar dkk, 1977). Dua komunitas studi lain yang diadakan di Australia (Egger, Fitzgerald, Frape, dkk, 1983) dan di Swiss (Autorengruppe Nationales Forschungsproggramm, 1984) mencapai pengurangan bersih dari 8 persen hingga 15 persen. Ahli bedah umum Amerika (1984) menyimpulkan bahwa pengurangan dari 12 persen rata-rata merokok biasanya terjadi di tipe komunitas yang mau ikut campur.



Legal dan Pengukuran Ekonomi dan Modifikasi Perilaku
Dampak dari kampanye yang meyakinkan dapat di tambahkan oleh aspek legal dan pengukuran ekonomi seperti pembatasan lebih lanjut dalam perdagangan rokok (seperti pembatasan umur) dan peningkatan pajak. Peningkatan pajak seharusnya berdampak efektif kususnya di kalangan remaja, yang rata-rata mempunyai kemampuan mengatur keuangan lebih kecil daripada orang dewasa, jadi lebih mudah dihindarkan dari merokok dengan sasaran nyata di harga rokok. Telah diperkirakan sebelumnya bahwa 10 persen kenaikan dari harga rokok akan menghasilkan 14 persen pengurangan dari permintaan atas rokok di kalangan anak remaja akan tetapi hanya 4 persen pengurangan di kalangan orang dewasa (Lewit dan Coate, 1982).
Dasar dari perkiraan-perkiraan Harris (1982) memprediksi bahwa di tahun 1982 terjadi penggandaan pajak rokok oleh kongres Amerika yang akan menghasilkan 3 persen penurunan dari jumlah perokok dewasa tetapi 15 persen pengurangan di kalangan remaja. Hal ini akan menyebabkan penghapusan 1,5 juta perokok dewasa dan 700.000 perokok remaja dari resiko tinggi kelompok perokok (Walsh dan Gordon, 1986). Karena penggandaan pajak ini mempengaruhi pertumbuhan dari 8 hingga 16 persen, lebih banyak sasaran peningkatan pajak akan terlihat sebagai sebuah strategi yang menjanjikan dari mencegah orang-orang yang lebih muda untuk menjadi perokok, terutama apabila hal ini dikombinasikan dengan berbagai macam program edukasi yang telah dijelaskan sebelumnya.



Kesimpulan
Merokok telah diidentifikasi sebagai salah satu sumber paling penting dari penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dan kematian dan sekarang fakta ini telah diterima oleh para perokok dan orang-orang yang tidak merokok secara bersama. Kebanyakan perokok mengakui bahwa mereka ingin berhenti merokok. Banyak perokok bahkan terlihat dapat berhenti melakukan keniasaan merokok tanpa membutuhkan bantuan. Demikian, survei yang dilakukan oleh Schachter (1982) dan Rzewnicki dan Forgays (1987) memberikan kesan bahwa kira-kira 60 persen dari perokok yang berhenti merokok telah berhasil diwawancaraai. Hasil belakangan ini adalah sesuai dengan data epidemiologikal yang mengindikasikan bahwa pengurangan signifikan dari rata-rata merokok dapat dilihat pada dekade terakhir secara besar-besaran terjadi pada orang-orang yang berhenti tanpa memerlukan bantuan. Akan tetapi sejak membuat menyerah seorang yang telah menetapkan untuk membiasakan diri untuk merokok itu selalu sulit, strategi yang paling menjajikan untuk mencegah merokok adalah dengan memberi penjelasan agar orang-orang tidak memulai untuk merokok.

Kasus Aids
Epidemiologi dari AIDS
Di berbagai kota-kota besar di Australia, Amerika Utara, dan Eropa Barat, AIDS telah menjadi penyebab utama kematian di usia muda orang dewasa. Di tahun 1988, AIDS telah memimpin penyebab kematian di antara orang-orang berusia 25-34 di kota New York. Di tahun 1989, penyakit yang berhubungan dengan HIV telah menjadi penyebab keduakematian laki-laki dan penyebab keenam dari kasus kematian di Amerika di antara orang-orang dewasa usia 25-44. Sesuai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir 1 juta kasus AIDS telah dilaporkan sejak 1 Juli 1994, akan tetapi dengan mengizinkan kasus yang sedang didiagnosis, sedang dilaporkan, dan penundaan dalam pelaporan, WHO memperkirakan kasus AIDS telah mencapai 4 juta di berbagai belahan dunia (Program Global AIDS, 1994). Dari hal ini diperkirakan lebih dari tiga perempat juta kasus disebabkan oleh penularan dari ibu ke anak, hampir semuanya terjadi di sub-sahara Afrika. Proyeksi penumpukan total dari kasus AIDS untuk tahun 2000 adalah mendekati 10 juta.
Walaupun demikian kemajuan terkemuka di dalam perawatan orang yang telah terinfeksi, menggunakan produk pharmaceutical (obat-obatan farmasi) yang dapat memperlambat perkembangan penyakit atau mencegah kemungkinan infeksi, tidak ada obat yang efektif atau vaksin yang telah dikembangkan hingga saat ini. Mengubah kebiasaan adalah metode yang tersedia untuk mencegah infeksi HIV. Petunjuk resiko pengurangan telah diformulasikan untuk mengurangi transmisi penyakit lebih lanjut. Instruksi ini mendorong pengurangan dari pertukaran cairan tubuh ketika seks berlangsung, menahan diri dari seks yang tidak aman, dan juga tidak menggunakan jarum secara bergantian untuk menyuntikan obat kedalam pembuluh darah atau cukup dengan membersihkan jarum yang akan dipakai.

Penyebab AIDS
Penyebab dari AIDS adalah suatu virus yang disebut dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV), yang langsung menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Secara normal, sistem kekebalan tubuh manusia membentuk antibodi yang melindungi dari gangguan. Sayangnya, bagaimanapun juga, antibodi ini tidak dapat melindungi seperti yang mereka lakukan pada virus-virus yang biasanya, dan sistem kekebalan tubuh tidak berhasil untuk menghilangkan virus. Meskipun peran mereka terbatas dalam memerangi virus, antibodi terhadap HIV digunakan sebagai indikator keberadaan virus. Antibodi dalam darah dapat dideteksi dengan tes sederhana. Ini bisa, namun bagaimana pun juga, membutuhkan waktu beberapa bulan setelah terinfeksi HIV sebelum dapat dideteksi oleh anibodi. Selama periode tersebut individu dapat menularkan virus kepada orang lain, misalnya melalui hubungan seksual.
Periode antara terinfeksi HIV dan menjadi gejala-gejala AIDS tidak seperti biasanya lama dibandingkan dengan penyakit menular lainnya, dan sangat berubah-ubah. Beberapa individu, mengalami perkembangan gejala sangat cepat, sedangkan yang lain tetap bebas dari gejala untuk sekian waktu yang lama, bahkan lebih dari 10 tahun (Rutherfordm, Lifson, Hessol, dkk., 1990). Rata-rata masa inkubasinya sekarang menjadi 7-10 tahun (Osborn, 1989). Antara 50 dan 75 persen laki-laki homoseksual terkena AIDS 8-10 tahun setelah terinfeksi oleh HIV. Masa inkubasi yang panjang ini masih belum bisa sepenuhnya diketahui virus HIV seperti apa yang menyerang seseorang yang pada akhirnya berkembang menjadi AIDS. Namun, ramalan sangat tidak menguntungkan. Penelitian yang dilakukan oleh suatu kelompok dalam jangka waktu yang panjang tentang individu seropositif menunjukkan bahwa sebagian besar, jika tidak semua, orang yang terinfeksi akan mengembangkan AIDS (Curran, Jaffe, Hardy, Morgan, Selik, & Dondero, 1988). Setelah gejala hadir beberapa pasien cepat memburuk sementara yang lain hidup bertahun-tahun. Rata-rata waktu hidup pasien dengan AIDS satu sampai tiga tahun.
HIV mempunyai pengaruh yang sangat buruk pada kesehatan dengan memasukkan dan membunuh sel-sel penting dalam sistem kekebalan tubuh, yang paling penting sel T-helper, jenis sel darah putih. Sel T-helper melayani fungsi penting dalam mengatur sistem kekebalan tubuh. Mereka merangsang sel-sel lainnya dalam sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman-kuman yang menyerang. Dengan menginfeksi dan menghancurkan sel T-helper, HIV menghentikan proses pertempuran menyerang kuman pada akarnya. Menurunnya jumlah sel T-helper secara bertahap mengurangi kemampuan seseorang untuk melawan penyakit lain sampai sistem kekebalan akhirnya rusak sama sekali. Tanpa sistem kekebalan yang berfungsi untuk mempertahankan tubuh terhadap kuman lain, individu yang rentan terhadap infeksi oleh kuman (bakteri, protozoa, jamur, virus lainnya) dan keganasan, yang biasanya tidak mampu untuk mendapatkan pijakan. HIV juga dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan otak. Hal ini dapat menyebabkan gejala mirip dengan demensia, dan kehilangan kontrol atas fungsi tubuh.


Cara Penularan
Identifikasi HIV, agen aetiological AIDS, dan pengembangan lebih lanjut dari tes imunologi, memungkinkan untuk mengetahui individu pada risiko dan untuk mempelajari faktor-faktor risiko penularan HIV dalam studi sero-epidemio-logis yang besar. Ditemukan bahwa HIV ditularkan melalui pertukaran sel yang dikandung cairan tubuh, terutama darah, air mani dan cairan vagina. Empat jalur utama infeksi dapat dibedakan: menerima darah yang terinfeksi atau produk darah, penularan dari ibu ke anak, hubungan seksual, dan penggunaan jarum suntik untuk penggunaan narkoba suntikan (Curran, Morgan, Hardy, Jaffe, Darrow, dan Dowdle, 1985).
Hubungan seksual antara pria homoseksual anogenital berulang kali ditemukan dan menjadi faktor resiko utama terinfeksi HIV (misalnya Winkelstein, Samuel, Padian, dkk, 1987a). Untuk pria homoseksual risiko infeksi HIV tertinggi ketika mereka adalah mitra/ pasangan yang menerima (Lancar et. al, 1988; Kingsley, Detels, Kaslow, dkk., 1987). Baru-baru ini, sejumlah kasus yang telah dilaporkan di mana yang menerima seks oral adalah kemungkinan besar penyebab infeksi HIV (misalnya Keet, Albrecht-Van, Prapaskah, Sandfort, Coutinho, & Van Griensven, 1992). Penularan HIV selama hubungan seksual atau orogenital anogenital mungkin terjadi tanpa ejakulasi sejak HIV ditemukan dalam cairan pra-ejakulasi (misalnya Ilaria, Jacobs, Polsky, dkk, 1992).
Penggunaan kondom selama seks anal dipromosikan sebagai profilaksis penting terhadap infeksi HIV untuk pria homoseksual. Telah ditemukan bahwa pria gay yang menggunakan kondom hanya beberapa waktu enam kali lebih mungkin terinfeksi HIV dibandingkan mereka yang menggunakan kondom setiap saat (Detels dkk, 1989). Namun penelitian tentang infeksi HIV pada pasangan sumbang serologis menunjukkan bahwa kondom dan spermisida tidak sepenuhnya aman (Hulley & Hearst, 1989).
Sebuah penelitian tentang tingkat kegagalan kondom di kalangan pria homoseksual yang berpartisipasi dalam sebuah kelompok AIDS di Amsterdam ditemukan bahwa kondom sobek atau terlepas selama berhubungan anogenital pada hampir 4 persen dari yang sudah terbiasa (De Wit, van den Hock, Sandfort, & van Griensven, 1993). Tingkat Kegagalan sangat tergantung pada jenis pelumas yang digunakan. Kondom yang digunakan dengan pelumas berbasis air sering gagal daripada kondom yang digunakan dengan berbasis minyak pelumas.
Laboratorium dan studi epidemiologi telah menunjukkan bahwa HIV tidak ditularkan oleh hubungan sehari-hari, dengan memeluk, mencium, melalui makanan atau air, atau dengan gigitan nyamuk dan serangga lainnya (Global Program on AIDS, 1994). Virus tidak memasuki tubuh melalui kontak langsung di seluruh kulit, dan karena itu tidak ditularkan melalui bersin, bersentuhan, jabat tangan, berbagi peralatan makan atau hidup dalam rumah tangga yang sama (Current dkk, 1988). Penelitian dalam suatu rumah tangga di mana salah satu anggotanya terinfeksi HIV, tidak ada lebih dari 400 anggota keluarga yang terinfeksi kecuali pasangan seks atau anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi (Curren dkk, 1988). HIV telah diisolasi dari air liur, tetapi dengan konsentrasi yang rendah dan tidak ada bukti bahwa virus dapat ditularkan melalui berciuman yang menggebu-gebu.



Perubahan Perilaku Seksual Antara Manusia Homo
Ketika diketahui bahwa risiko infeksi HIV sangat dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dengan mengubah perilaku-perilaku yang membantu untuk mengirimkan virus, komunitas homoseksual di pusat epidemi bereaksi dengan intervensi/campur tangan dari berbagai tingkat masyarakat. Ini jarang dievaluasi secara resmi. Bukti tidak langsung tentang efektivitas upaya pencegahan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku protektif antara manusia homosekssual berasal dari sejumlah studi longitudinal yang telah dimulai di beberapa kota dengan komunitas gay besar di seluruh dunia industri, seperti San Fransisco, New York City, Vancouver dan Amsterdam. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pria homoseksual menginformasikan tentang risiko perilaku yang menyebabkan infeksi HIV yang mengakibatkan perubahan perilaku substansial (Coutinho, Van Griensven, & Moss, 1989).
Penurunan lebih dari 60 persen terjadi pada perilaku berisiko selama empat siklus pemeriksaan antara tahun 1984 dan 1986 dalam subset lebih dari 600 homo dan biseksual dalam sampel probabilitas pria lajang di San Francisco (Winkelstein, Samuel, Padian, dkk, 1987b). Fakta bahwa proporsi orang-orang yang terinfeksi HIV pada awal penelitian tidak meningkat pada periode penelitian menunjukkan bahwa pengurangan perilaku berisiko tinggi mengakibatkan stabilisasi infeksi HIV yang lazim di kelompok ini. Analisis perubahan perilaku lebih dari 13 siklus dalam kelompok ini (van Griensven, Samuel, & Winkelstein, 1993) menunjukkan penurunan tetap dalam persentase laki-laki yang melaporkan hubungan anogenital dengan ejakulasi; dari 84 persen pada tahun 1984, menjadi 30 persen pada tahun 1987. Sejak itu dan seterusnya persentase ini masih lebih atau kurang stabil. Selain itu, ditemukan peningkatan penggunaan kondom, di antara keduanya seropositif dan seronegatif laki-laki. Penurunan serupa pada perilaku berisiko dilaporkan dalam studi sampel pria gay di New York (Martin, 1987).
Jumlah mengesankan dari epidemiologi, studi perilaku dan psikologis tentang infeksi HIV yang telah selesai membuat jelas bahwa perubahan perilaku substansial telah terjadi di kalangan laki-laki homo seksual dan hal ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pencegahan infeksi HIV. Namun, bukti dari San Francisco dan New York City, pusat dari wabah/epidemi, dapat mendeteksi tingkat perubahan perilaku yang terjadi dalam komunitas gay sebagai akibat wabah AIDS. Studi yang dilakukan di wilayah yang kurang terkena biasanya melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari perilaku berisiko tinggi di antara pria homoseksual, meskipun pengurangan substansial dalam perilaku berisiko telah terjadi (lihat Catania, Coates, Kegeles, Ekstrand, Guydish, & Bye, 1989). Sebagai contoh di Amsterdam Cohort Study (Studi kelompok Amsterdam), sebuah studi longitudinal lebih dari 600 orang yang berkali-kali ditanya tentang perilaku seksual mereka antara tahun 1984 dan 1988, 46 persen dilaporkan menyerah anogenital hubungan tanpa kondom, tapi hampir 30 persen masih rutin latihan teknik ini, dan lebih 19 persen terlibat dalam seks anal tanpa kondom beberapa waktu (De Wit, de Vroome, Sandfort, van Griensven, Coutinho, & The Tielman, 1992).
Selanjutnya, dalam beberapa tahun terakhir beberapa penelitian telah melaporkan bahwa perilaku dari kelompok pria homoseksual yang diamati pada awalnya berhasil diubah perilaku mereka, tetapi tidak dapat mempertahankan perubahan ini dari waktu ke waktu. Sebuah studi antara pria homoseksual dalam sampel probabilitas pria lajang di San Francisco dinilai pola perilaku longitudinal dalam jangka aktu empat tahunan antara tahun 1984 dan 1988 (Ekstrand & Coates, 1990). Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa 16 persen telah rentan terhadap perlindungan dan 12 persen untuk seks anal reseptif tanpa kondom. Dalam studi serupa di San Francisco antara sampel kenyamanan pria gay, awalnya direkrut dengan sosialisasi pemandian dan pengunjung bar, namun masih dominan ditemukan seks berisiko tinggi (Stall, Ekstrand, Pollack, Mc Kusick, & Coates, 1990). Di kelompok Amsterdam persentase orang yang dilaporkan terlibat dalam seks anal tanpa kondom meningkat dari 29 persen pada enam bulan pertama 1991 ke 41 persen di paruh kedua tahun yang sama. Sebagian besar perubahan ini terkait pada peningkatan seks anal tanpa perlindungan dengan pasangan yang santai, dari 13 ke 24 persen (De Wit dkk, 1993).
Ada beberapa keterbatasan metodologis untuk kelompok penelitian yang menggunakan sampel kenyamanan peserta yang mungkin termasuk temuan yang janggal. Penggunaan sampel kenyamanan dan kemungkinan besar tingkat penolakan menimbulkan pertanyaan sulit mengenai keterwakilan sampel dan generalisasi temuan. Mayoritas responden dalam studi ini tidak hanya putih dan terdidik (Becker & Joseph, 1988), tetapi motivasi yang mendasari keputusan untuk berpartisipasi juga tidak jelas (Catania, Gibson, Chitwood, & Coates, 1990). Jika individu menolak untuk berpartisipasi karena mereka berlatih perilaku seksual risiko-tinggi dimana mereka tidak mau mengakuinya, studi-studi ini benar-benar bisa meremehkan perilaku berisiko tinggi. Prasangka adalah faktor lain yang berpotensi muncul dari metodologi longitudinal yang digunakan hampir semua studi. Penilaian berulang-ulang dari waktu ke waktu dapat memantauan diri sendiri tentang perilaku seksual seseorang. Sepertinya masuk akal, karena itu, wawancara yang diulang-ulang dengan orang yang sama mungkin hasilnya perubahan tingkah laku yang tidak dinyatakan. Namun, Catania dkk. (1991) baru-baru ini membandingkan laporan dari sebuah kelompok dengan tiga orang sampel silang dari pria gay yang diwawancarai pada saat yang sama dan menemukan peningkatan dalam penggunaan kondom di seluruh sampel.

Perilaku Penentu Dan Intervensi (Campur Tangan)
Untuk mendesain dan menerapkan intervensi yang memadai untuk mempromosikan perilaku protektif perlu memahami faktor-faktor penentu perilaku berisiko. Studi menilai bahwa faktor-faktor penentu perilaku antara pria homoseksual ditemukan sejumlah besar variabel yang berkaitan dengan tindakan seksual berisiko-tinggi. Secara umum, investigasi ini dinilai dari variabel ditetapkan dalam teori psikologi sosial menyehatkan dan psikologis perilaku. Bukti empiris dikumpulkan mengenai pentingnya variabel-variabel berikut dalam mengubah perilaku seksual yang berisiko-tinggi: pengetahuan (misalnya Kelly dkk, 1990), pentingnya hubungan anal (Mc Kusick, Coates, Morin, Pollack, & Hoff, 1990), kondom akseptabilitas (Valdisseri, Lyter, Leviton, Callahan, Kingsley, dan Rinaldo, 1988), norma-norma sosial (Joseph, Montgomery, Emmons, dkk, 1987), kepercayaan dari teman-teman dan kekasih (Mc Cusker, Zapka, Stoddard, & mayer, 1989), komunikasi tentang menyimpan seks dengan pasangan (Linn, Spiegel, Mathews, Leake, Lien, & Brooks, 1989), merasa bahwa mengubah perilaku seseorang itu sulit (Siegel, Mesagno, Chen, & Kristus, 1989), dan kemanjuran pribadi sehubungan dengan mengubah perilaku seksual yang berisiko tinggi (Mc Kusick dkk, 1990). Beberapa studi juga menemukan bahwa usia muda berkaitan dengan perilaku sksual yang berisiko (Ekstrand & Coates 1990; Kelly dkk, 1990; Mc Kusick dkk, 1990). Hospers dan Kok (1995) mengkaji ulang terhadap studi tentang faktor-faktor penentu perilaku resiko seksual di kalangan pria homoseksual. Mereka menyimpulkan bahwa, secara umum, perilaku berani mengambil risiko berhubungan dengan sikap individu, norma subyektif dan persepsi pengendalian perilaku.
Namun, Fisher dan Fisher (1992) menunjukkan tinjauan ekstensif mereka mengenai studi intervensi, beberapa intervensi telah ketat yang berasal dari teori psikologi sosial perubahan sikap dan perilaku. Sebaliknya, sebagian besar intervensi berdasarkan "perpaduan logika dan practicle pengalaman "(hal 463). Fisher dan Fisher mengamati bahwa intervensi yang didasarkan pada konsep-konsep teoritis formal lebih berhasil. Mereka juga berpendapat bahwa meskipun subyek menyediakan informasi tentang perilaku berisiko dan memotivasi mereka untuk menghindari perilaku seksual berisiko merupakan kondisi yang diperlukan untuk mempromosikan perubahan perilaku, ini mungkin tidak cukup untuk pengurangan risiko infeksi HIV. Mereka menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan dan juga kemampuan berperilaku lebih unggul dalam sikap pasca-pengobatan dan perubahan perilaku. Kemampuan berperilaku tertentu seperti kemampuan untuk berkomunikasi dengan bersikap tegas dengan paangan seksual, yang diperlukan untuk mempraktekkan perilaku seksual yang aman. Individu harus mampu menegosiasikan perilaku pencegahan HIV dengan pasangannya dan mampu meninggalkan situasi dimana seks yang aman tidak dapat dinegosiasikan (Fisher & Fisher, 1992).
Beberapa program yang efektif telah dikembangkan dan diuji. Intervensi ini termasuk pelatihan keterampilan perilaku dan sosial yang relevan. Kelly, St Lawrence, Hood dan Brasfield (1989) menetapkan secara acak 104 laki-laki homoseksual yang sehat ke grup intervensi atau sekelompok orang yang menunggu daftar kontrol. Peserta dalam kelompok intervensi diajarkan, melalui pemodelan, permainan peran dan umpan balik korektif, bagaimana melakukan kontrol dalam hubungan dan untuk melawan pemaksaan oleh pasangan seks untuk terlibat dalam kegiatan seksual yang tidak aman. Evaluasi pada akhir program pelatihan menunjukkan bahwa anggota dari kelompok intervensi secara signifikan mengurangi frekuensi seks anal yang tidak sehat dan telah meningkatkan frekuensi penggunaan kondom. Perubahan ini tetap dipertahankan hingga delapan bulan ke depan; frekuensi hubungan anal sudah turun mendekati nol dan pemakaian kondom 77 persen dari beberapa kasus di mana hubungan seks anal berlangsung. Valdiserri, Lyter, Leviton, Callahan, Kingsley dan Rinaldo (1989) menemukan sebuah intervensi yang meliputi pelatihan keterampilan perilaku menjadi lebih efektif daripada program-informasi saja.
Secara umum, sulit untuk mengubah perilaku setelah menjadi suatu kebiasaan. Ini merupakan pertimbangan penting yang mendasari pengenalan program pendidikan HIV dalam kurikulum sekolah. Program ini sangat penting karena dapat membantu menginformasikan kebiasaan yang protektif sebelum banyak perilaku yang tidak aman terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir banyak program telah dikembangkan untuk menginformasikan seks aman di kalangan remaja. Sebagian besar dimaksudkan untuk mempromosikan penggunaan kondom, hanya sebagian kecil program yang dengan tegas bahwa penundaan hubungan seksual dipromosikan sebagai strategi pencegahan. Secara umum, program yang telah ditemukan ini digunakan untuk meningkatkan tingkat pengetahuan tetapi tidak untuk memunculkan pengaruh perilaku protektif. Vogels dan Danz (1990) menemukan bahwa 60 persen remaja yang berpengalaman seksual di Belanda tidak konsisten menggunakan kondom. Kebanyakan remaja menganggap kondom menjadi alat kontrasepsi dan juga tidak menggunakannya, atau berhenti menggunakannya, saat pasangan wanita menggunakan alat kontrasepsi secara oral. Alasan kedua untuk efektivitas program-program pencegahan terbatas untuk remaja adalah bahwa mereka umumnya tidak didasarkan pada negara-negara teoritis dan temuan empiris, juga menghadapi masalah sehubungan dengan program pendidikan HIV untuk pria gay. Satu masalah lain dalam kaitannya dengan pendidikan HIV di kalangan remaja adalah bahwa kerjasama dan dukungan dari para guru sekolah tinggi dan administrator diperlukan untuk melaksanakan program ini. Mengadopsi kelas berbasis pendidikan HIV bisa sangat luas antara sekolah dan guru dan dapat berhubungan dengan keyakinan guru tentang program yang tersedia, dan peran mereka terhadap pendidikan seks secara umum dan pendidikan HIV pada khususnya, serta kebijakan sekolah tentang pendidikan seks.

Ringkasan dan Kesimpulan
Bagian pertama dari bab ini difokuskan pada teori-teori psikologi sosial perubahan sikap dan perilaku. Dari diskusi ini sejumlah prinsip sederhana dapat diturunkan untuk desain kampanye yang ditujukan untuk mengubah pola perilaku yang merusak kesehatan. Setelah perilaku telah diidentifikasi sebagai yang merusak kesehatan, langkah pertama dalam perencanaan kampanye adalah untuk mempelajari faktor-faktor yang menentukan perilaku dalam populasi target. Penelitian ini harus didasarkan pada model perilaku seperti teori perilaku terencana, keyakinan kesehatan model, atau teori perlindungan motivasi. Langkah kedua dalam kampanye perencanaan adalah untuk memutuskan jenis strategi perubahan sikap dan perilaku untuk dipekerjakan. Misalnya ia harus memutuskan apakah akan hanya mengandalkan persuasif atau untuk melengkapi pesan persuasif dengan perubahan struktur insentif. Faktor-faktor yang relevan dengan keputusan ini adalah motivasi dan kemampuan pengolahan potensi penerima komunikasi kesehatan dan / atau apakah perilaku tersebut setuju untuk mempengaruhi oleh insentif positif atau negatif. Sebagai contoh, yang tidak umum diamati (dan dengan demikian tidak mudah terbuka untuk sanksi) dan yang tidak bergantung pada bahan yang harus dibeli (dan dengan demikian sulit untuk mempengaruhi melalui kenaikan harga) jelas sulit untuk mengubah melalui perubahan struktur insentif. Jelas, perubahan struktur insentif dapat digunakan tidak hanya untuk meningkatkan tetapi juga untuk mengurangi biaya dari suatu perilaku tertentu. Sebagai contoh, karena jarum berbagi di antara pengguna narkoba merupakan salah satu sumber penyebaran AIDS, membuat jarum gratis yang tersedia dalam program jarum-sharing dapat membantu mengurangi faktor resiko. Akhirnya, harus diingat bahwa strategi yang mengandalkan persuasi dan orang-orang yang menggunakan insentif saling melengkapi dan harus digunakan dalam kombinasi.
Hal ini terbukti dari diskusi kita tentang merokok dan perilaku resiko seksual sebagai studi kasus tentang penerapan teori psikologi sosial perubahan sikap dan perilaku bahwa prinsip-prinsip ilmiah yang diuraikan dalam bab ini tidak selalu diperhatikan dalam perencanaan promosi kesehatan. Jadi, sebagian besar kampanye awal terhadap merokok atau perilaku resiko seksual bergantung pada kekuatan argumen bahwa perilaku yang berbahaya dan bahwa mereka terlibat dalam meningkatkan risiko mengembangkan penyakit mematikan. Sedangkan jenis informasi ini adalah efektif dalam memotivasi perubahan pada tahap awal saat orang-orang tidak tahu tentang risiko ini, tidak lagi efektif pada orang yang bertahan dalam terlibat dalam perilaku meski pengetahuan yang mereka berbahaya. Setiap kampanye informasi saat ini ditujukan bahwa perilaku berisiko akan memiliki sedikit kesempatan untuk sukses kecuali hal itu didasarkan pada prinsip-prinsip psikologis sosial perubahan sikap dan perilaku.










































































Gambar 5.5 Konsumsi Rokok Per Kapita diantara Orang-orang Dewasa dan Perokok Utama dan Kegiatan Kesehatan di Amerika, 1900-1984 (Novotny, Romano & Mills, 1992).

1. Depresi besar
2. Akhir dari Perang Dunia ke-2
3. Laporan medis pertama yang menghubungkan antara kebiasaan merokok dengan penyakit kanker
4. Laporan pertama ahli bedah umum Amerika
5. Larangan penyiaran iklan
6. Penggandaan pajak rokok negara bagian
7. Pesan doktrin yang adil di televisi dan radio
8. Pergerakan hak-hak orang yang tidak merokok dimulai

No comments: