psikologi sains

wacana saling bertukar pikiran dan berbagi ilmu

Tuesday, September 20, 2011

Pengantar Psikologi Sosial

pengantar Psisosial

Wednesday, July 13, 2011

Pemahaman Diri

MENGENAL DAN MEMAHAMI DIRI SENDIRI

“Mengenal diri dan tidak salah tentang citra diri sangat membantu bagi setiap orang yang ingin bekerja sama dengan orang lain” demikian orang Bijak berpendapat.
Mungkin anda juga sependapat dengan hal tersebut diatas bukan ?

Pilihlah satu jawaban dari setiap pasangan pernyataan-pernyataan di bawah ini, yang Anda rasakan sesuai dengan keadaan diri Anda !
(Nomor 1 dan 2 adalah berpasangan, 3 dan 4 demikian juga, dan seterusnya)

Pilih secara spontan, karena dalam pilihan ini tidak ada salah ataupun benar, manapun pilihan Anda !


Tuesday, July 12, 2011

Anxiety (kecemasan)

kecemasan adalah ketidak mampuan individu dalam mengendalikan emosi dan perasan antara ketakutan dan kekhawatiran (Hyun, 1999) yang kuat serta meluap-luap (Chaplin,2006 ) dan kegelisahan yang irasional (Mcloone,2006), sedang derajatnya masing-masing individu berbeda-beda (Mc donald,2001;Supon, 2004). Freud juga berpendapat bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif individu mengenai ketegangan-ketegangan, kesulitan-kesulitan dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau ancaman (Basuki, 1987; Hanum, 2002) Gejala umum dari kecemasan yaitu kegelisahan, kelelahan berpikir, kesulitan berkosentrasi, mudah tersinggung, tegang,mual, atau gangguan tidur . Gangguan kecemasan juga sering melibatkan gejala somatic (Mcloone, 2006) antara lain keluar keringat dingin, sulit bernafas, ganguan lambung, berdebar-debar, tekanan darah meninggi dan (Baihaqi, 2007), gemetar, sesak nafas, nyeri di dada, merasa pusing, pingsan, ketegangan otot (R. Yates, 2009), buang air besar (L. Lichstein, 1988), getaran anggota tubuh dan aktivitas berlebihan dari system otonomik Ramaiah (2006).
Kecemasan didefinisikan sebagai konsep yang terdiri atas dua dimensi utama, yaitu kekhawatiran (worry) dan emosionalitas (emotionally).Dimensi emosi merujuk pada reaksi fisiologis dari system saraf otonomik yang timbul akibat rangsangan atau perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi-reaksi emosi terhadap hal-hal buruk yang dirasakan individu ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan (Hidayah, 2004). Dimensi kekhawatiran merupakan aspek kognitip dari kecemasan yang di alami, berupa pikiran negative tentang diri dan lingkungannya dan perasaan negative terhadap kemungkinan kegagalan yang akan dihadapinya beserta konsekuensinya (Fiedman, 1997). Kekhawatiran adalah gambaran proses kognitif antisipatif yang dapat dipicu oleh pikiran yang berhubungan dengan kejadian realitis atau tidak realitis (Brown, 2006), berupa pikiran negatif tentang diri dan lingkungannya dan perasaan negatif terhadap kemungkinan kegagalan (Hidayah, 2004).
Kecemasan seringkali berkembang selama jangka waktu panjang dan sebagian besar tergantung pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Jersild (dalam Trismiati, 2004) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Pertama, kecemasan normal, yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Kedua, kecemasan neurotik, ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas, kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri.
Menurut Bucklew (1980), para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat, yaitu:
1) Tingkat psikologis. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya.
2) Tingkat fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.
Berkaitan dengan sebab-sebab kecemasan, Freud (dalam Arndt, 1974; Trismiati, 2004) mengemukakan bahwa lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya kecemasan. Freud berpendapat bahwa sumber ancaman terhadap ego tersebut berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari superego.
Freud (Hall dan Lindzay, 1995 ; Trismiati, 2004) menyatakan bahwa ego disebut sebagai eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, dan memutuskan insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif ini, ego harus berusaha mengintegrasikan tuntutan id, superego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya kecemasan.

Kajian Meditasi

Pada awalnya meditasi adalah nama generik yang diberikan untuk belajar agama di daerah Timur. Tujuan utama dalam meditasi (a) perenungan dan kebijaksanaan, (b) perubahan dalam kesadaran (c) relaksasi (L. Lichstein, 1988). Efek meditasi oleh banyak pakar diyakini membawa dampak positif bagi kehidupan manusia (P. Satiadarma, 1998).
Dewasa ini meditasi digunakan dalam banyak hal. Ada yang melaksanakan meditasi untuk mendapatkan kedamaian dan kekuatan jiwa. Istilah meditasi telah dikenal luas baik, baik dari pendekatan awam maupun ilmiah. Akan tetapi banyak orang yang belum memahami tentang meditasi itu sendiri. Kebanyakan orang mempersepsikan meditasi dengan ritual agama tertentu bahkan ada yang mengkaitkan perdukunan atau klenik. Walsh, Orntein, dan Maupin (dalam Subandi dkk, 2002) meditasi adalah suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran, dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya. Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang.

Tuesday, April 19, 2011

Menstruasi

Haid atau menstruasi adalah salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses deskuamasi atau meluruhnya dinding rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui vagina (Prawirohardjo,2007; Suwarni 2009). Siklus menstruasi berkisar antara 21 - 40 hari, hanya 10 – 15% wanita yang memiliki siklus 28 hari dan lebih dari 35 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan sesaat sebelum menopause, lamanya mengeluarkan darah pun berbeda-beda, biasanya antara 3-5 hari,7-8 hari dan ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit. 
Menarche sendiri adalah waktu pertama kali menstruasi dan sebagai salah satu aspek penting untuk menjadikan wanita memasuki masa puber (Stainberg, 2002). Permulaan dan kelanjutan dari siklus menstruasi yang normal tergantung pada kesatuan fungsional dan anatomis dari hipotalamus bersama dengan pusat-pusat yang lebih tinggi termasuk peran kelenjar pineal, pituitary anterior, ovarium, dan uterus (Berman, Kiliegman and Arvin, 2000).

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon yang diproduksi oleh tubuh yaitu Luteinizing Hormon , Follicle Stimulating Hormone dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis sehingga bisa maju dan mundur. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone secara signifikan sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium). Kenaikan LH akan mendorong sel telur keluar dari ovarium menuju tuba falopii. Didalam tuba falopii ini bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Masa-masa inilah yang disebut masa subur, yaitu bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur berada dalam tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati. LH surge yaitu kenaikan LH secara tiba-tiba akan mendorong sel telur keluar dari ovarium. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan LH.

Beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada bagian perut bawah pada saat hal ini terjadi. Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium. Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun (Heffner; 2008; Nur,2010).

Setiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang terjadi dalam uterus. Fase-fase ini merupakan hasil kerjasama yang sangat terkoordinasi antara hipofisis anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut adalah :
  1. Fase menstruasi atau deskuamasi Fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.
  2. Fase pasca menstruasi atau fase regenerasi. Fase ini, terjadi penyembuhan luka akibat lepasnya endometrium. Kondisi ini mulai sejak fase menstruasi terjadi dan berlangsung selama ± 4 hari. (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010). Terjadi pada hari pertama sampai hari ke lima pada siklus menstruasi (Hendrik, 2006)
  3. Fase intermenstum atau fase proliferasi . Setelah luka sembuh, akan terjadi penebalan pada endometrium ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi. Fase proliferasi dibagi menjadi 3 tahap, yaitu : Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel. Fase proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang berbentuk torak yang tinggi. Fase proliferasi akhir, berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010). Pada masa ini adalah masa paling subur bagi seorang wanita (Hendrik,2006)
  4. Fase pramenstruasi atau fase sekresi. Fase ini berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. Fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang berkelok-kelok dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Bagian dalam sel endometrium terdapat glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai bahan makanan untuk telur yang dibuahi. Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu: Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena kehilangan cairan. Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010).

Menurut Wiknjosastro (2002), gangguan menstruasi dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam:

1) Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi

  • Hipermenorea (menoragia) : perdarahan menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Pada bentuk gangguan seperti ini siklus menstruasi tetap teratur akan tetap jumlah darah yang dikeluarkan cukup banyak. Penyebab terjadinya kemungkinan terdapat mioma uteri (pembesaran rahim), polip endometrium, atau hiper plasia endometrium (perubahan dinding rahim). Diagnosis kelainan dapat ditetapkan pemeriksaan dalam, ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan terhadap kerokan (Chandranita, 2009)
  • Hipomenorea : perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya. Pada kelainan ini siklus menstruasi tetap teratur sesuai dengan jadwal menstruasi akan tetapi jumlah darah yang dikeluarkan relative sedikit. Penyebabnya kemungkinan gangguan hormonal, kondisi wanita kekurangan gizi, atau wanita dengan penyakit tertentu (Chandranita, 2009).

2) Kelainan siklus

  • Polimenorea : siklus menstruasi yang lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari). Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya.
  • Oligomenorea : siklus menstruasi lebih panjang (lebih dari 35 hari). Perdarahannya biasanya berkurang. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus menstruasi biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa.
  • Amenorea :Keadaan tidak adanya menstruasi untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Gangguan berhentinya menstruasi yang diakibatkan karena adanya gangguan pada fungsi indung telur, hormone yang tidak stabil, kesehatan atau masalah tekanan jiwa dan emosi (Kasdu,2005). Amenorea dibagi menjadi dua yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea sekunder terjadi ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi sejak kecil. 

Penyebabnya kelainan anatomis kelamin (tidak terbentuk Rahim, tidak ada liang vagina, atau gangguan hormonal). Amenorea fisiologis (normal) yaitu sesorang wanita sejak lahir sampai menarche, terjadi pada kehamilan dan menyusui sampai batas tertentu dan setelah mati haid.
Sedangkan Amenorea sekunder yaitu pernah mengalami menstruasi dan selanjutnya berhenti lebih dari tiga bulan. Penyebabnya mungkin gangguan gizi, terdapat tumor alat kelamin, gangguan hormonal atau penyakit menahun (Chandranita, 2009). Gejala klinis amenorea sekunder antara lain nyeri abdomen bagian bawah, menjalar kepinggang dan paha disertai keluhan mual dan muntah, sakit kepala, diare, mudah tersinggung (Manuba, 1998)

Untuk mengatasi Amenorea sebaiknya seseorang melakukan gaya hidup sehat mulai dari makan makanan yang bergizi seimbang, berolahraga, tidak minum-minuman berahkohol, tidak minum obat-obatan steroid atau narkotika, tidak stress dan menjaga berat sehingga dengan pola hidup yang sehat ini membuat hormone tetap normal (Kasdu,2005)

3) Perdarahan di luar haid

Perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 menstruasi (metroragia). Pendarahan ini disebabkan oleh keadaan yang bersifat hormonal dan kelainan anatomis. Pada kelainan hormonal terjadi gangguan poros hipotalamus hipofise, ovarium (indung telur) dan rangsangan estrogen dan progesterone dengan bentuk pendarahan yang terjadi di luar menstruasi, bentuknya bercak dan terus menerus, dan pendarahan menstruasi berkepanjangan (Chandranita, 2009). Keadaan ini dipengaruhi oleh ketidak seimbangan hormone tubuh, yaitu kadar hormone progesterone yang rendah atau hormone estrogen yang tinggi. Penderita hipoteroid (kadar hormone teroid yang rendah) atau hiperteroid (kadar hormone teroid yang tinggi) dan fungsi adrenal yang rendah juga bisa menyebabkan gangguan ini. Beberapa gangguan organ reproduksi juga dapat menyebabkan metroragia seperti infeksi vagina atau Rahim endometriosis, kista ovarium, fibroid, kanker endometrium atau indung telur, hyperplasia endometriosis, penggunaan kontrasepsi spiral yang mengalami infeksi juga dapat menyebabkannya (Kasdu,2005).

Pengobatan terhadap kelainan ini pada remaja (gadis) dengan pengaturan secara hormonal (Chandranita, 2009) dengan menstimulasi kelenjar pituitary di otak dan adrenal untuk menyeimbangkan kadar FSH dan LH (Kasdu,2005) sedangkan untuk wanita menikah atau mempunyai anak dengan memeriksakan alat kelamin dan bila perlu diadakan kuretase dan pemeriksaan patologi untuk memastikannya (Chandranita, 2009).
Sedangkan gangguan lain yang ada hubungan dengan haid

a) Premenstrual tension (ketegangan pramenstruasi) : 

keluhan-keluhan yang biasanya mulai 1 minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya menstruasi, dan menghilang sesudah menstruasi datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai menstruasi berhenti. Gejala ini dijumpai pada wanita umur 30 sampai 45 tahun. Penyebab yang jelas belum diketahui akan tetapi kemungkinan diakibatkan ketidakseimbangan antara estrogen dan progesterone. Dikemukan bahwa dominasi estrogen merupakan penyebab dan defisiensi fase luteal dan kekurangan progesterone. Akibat dominasi estrogen terjadi retensi air dan edama pada beberapa tempat. Gejala klinisnya dalam bentuk gangguan emosional yaitu mudah tersinggung, sukar tidur, gelisah, sakit kepala, perut kembung, mual sampai muntah, pada payudara terasa tegang dan sakit, bahkan kasus yang lebih berat sering individu yang mengalaminya menjadi tertekan (Manuba, 1998).

b) Mastalgia : 

rasa nyeri dan pembesaran payudara sebelum menstruasi. Mastalgia disebabkan dominasi hormone estrogen sehingga terjadi retensi air dan garam disertai hipermia didaerah payudara. Segera setelah menstruasi mastalgia menghilang dengan sendirinya (Manuba, 1998)

c) Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) : 

nyeri antara menstruasi, terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus menstruasi, pada saat ovulasi. Kadang-kadang Mittelschmerz diikuti oleh pendarahan yang berasal dari proses ovulasi dengan gejala klinis seperti hamil ektropik yang pecah (Manuba, 1998).

d) Dismenorea

Dismenorea merupakan rasa sakit akibat menstruasi yang sangat menyiksa karena nyerinya luar biasa menyakitkan. Selama dismenorea, terjadi kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin sehingga menyebabkan vasospasme dari arteriol uterin yang menyebabkan terjadinya iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan merangsang rasa nyeri disaat menstruasi (Robert dan David; 2004; Nur,2010). Faktor yang memperburuk dismenorea adalah Rahim yang menghadap kebelakang (retroversi), kurangnya berolahraga dan stress psikis atau stress social, dan kekurangan zat besi (Kasdu,2005).
Dimenorea terdiri dari primer dan sekunder. Lebih dari 50% wanita mengalami dismenorea primer dan 15 % diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dimenorea primer timbul pada masa remaja yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama dan tidak disebabkan oleh penyakit. Namun dengan bejalannya waktu tepatnya hormone tubuh lebih stabil atau perubahan pada Rahim setelah menikah dan melahirkan gangguan ini akan berkurang (Kasdu,2005).
Sedangkan dismenorea sekunder, gangguan haid disebakan adanya gejala penyakit yang berhubungan dengan kandungan, misalnya endometriosis, infeksi Rahim, kista/polip, tumor sekitar kandungan, kelainan kedudukan Rahim yang dapat menganggu organ dan jaringan disekitarnya. Penyebab dismenorea sekunder lainya adalah kondisi panggul, endometriosis, fibroid, edenomiosis, peradangan tuba falopi, pelengketan abnormal antar organ dalam perut, pemakian kontrasepsi IUD atau tampon. Kondisi demikian hanya dialami sekitar 25% wanita dan kebanyakan mereka berumur 20 tahunan (Kasdu,2005).

Syndroma Pramenstruasi (Premenstual Syndrome)

Kadar sindroma pramenstruasi (PMS) dan waktunya pada setiap wanita tidak selalu sama. Ada wanita yang merasa sangat sakit sampai menderita kram dan tidak dapat beraktifitas. Beberapa ahli mengatakan bahwa gejala tersebut berhubungan kadar hormone estrogen dan progesterone pada siklus haid. Menurut ahli lain memperkirakan gangguan menjelang haid berhubugan dengan masalah psikis, misalnya wanita menganggap masa haid sebagai beban sehingga tanpa sadar ia menolaknya. Gangguan ini bisa juga merupakan tanda dari penyakit yang serius seperti endometriosis, kista atau angioma uteri dan adanya infeksi Rahim (Kasdu,2009). Gejala yang muncul akan terjadi pada separuh ahkir dari siklus menstruasi, yang menghilang saat mulainya menstruasi. Manifestasi klinis dapat berupa penuhnya payudara dan terasa nyeri, bengkak, kelelahan, sakit kepala, peningkatan nafsu makan, iritabilitas dan ketidakstabilan perasaan dan depresi, kesulitan dalam kosentrasi, keluar air mata dan kecenderungan untuk melakukan kejahatan. Hamper sepertiga wanita produktif menghidap PMS (Behrman, Kliegman and Arvin;2000).
Untuk mencegah PMS yaitu menjaga organ genital, baik dalam hubungan sex maupun saat buang air besar dan kecil. Tindakan lainnya untuk mengurangi resiko ini adalah olahraga dan hidup lebih rileks sehingga aliran darah tubuh lancar karena mempengaruhi aliran darah organ reproduksi. Termasuk pola makan yang memenuhi gizi seimbang sehingga semua kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi terpenuhi, terutama kebutuhan zat besi yang diperlukan saat wanita haid (Kasdu,2005).

Friday, February 25, 2011

5 WASIAT ALLAH SWT KEPADA RASULULLAH SAW

Dari Nabi S.A.W., "Pada waktu malam aku di-isra'-kan sampai ke langit, Allah S.W.T telah memberikan lima wasiat, antaranya :

- Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia kerana sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau.
- Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.
- Bersungguh-sungguhlah engkau mencari syurga.
- Putuskan harapan dari makhluk kerana sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di tangan mereka.
- Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajjud kerana sesungguhnya pertolongan itu berserta qiamullail.

-------------------

Ibrahim bin Adham berkata, "Telah datang kepadaku beberapa orang tetamu, dan saya tahu mereka itu adalah wakil guru thariqat. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah S.W.T.
Lalu mereka berkata, "Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, yaitu :

- Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan kesadaran hatinya.
- Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan kata-kata hikmah darinya.
- Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan kemanisan ibadahnya.
- Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan khusnul khatimahnya.
- Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan akan hidup hatinya.
- Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan kelurusan agamanya.

- Orang yang mencari keridhaan manusia janganlah harapkan akan keridhaan Allah daripadanya."

Friday, February 11, 2011

PANDUAN DANA BOS

http://www.scribd.com/full/48611186?access_key=key-1ifjl1xwla9cqymw5lky

Thursday, February 10, 2011

METODE PELATIHAN

1. Reading dan Hand-out
Tujuan:
memperoleh pengetahuan dan informasi
meningkatkan penalaran yang analitis dan evaluatif

Syarat:
materi harus mudah dibaca
materi harus berhubungan dengan tujuan dan isi training
materi harus mampu memperjelas, melengkapi, atau memperkuat apa yang dipelajari dalam training.
2. Lecturettes
Tujuan:
menyampaikan informasi atau gagasan baru yang bersifat satu arah.
Menjabarkan atau menghubungkan konsep dan istilah baru dengan apa yang sudah diketahui oleh peserta.
Menyimpulkan akhir dari suatu sesi.
Syarat:
Penggunaan audiovisual sangat mendukung metode ini.
3. Experiential Lectures
Tujuan:
Melibatkan partisipasi aktif peserta, pada saat jeda antar bagian training yang akan melengkapi masukan pokok dari fasilitator.
Mencapai tujuan pokok dari kuliah dan atau untuk meningkatkan kesiapan peserta pada topik berikutnya melalui jeda lyang dirancang untuk tujuan ini.
4. Discussion
Tujuan:
Mengembangkan, memperjelas dan menguatkan konsep-konsep dalam training.
Mengubah ide-ide dan pemahaman mengenai suatu hal.
Mengembangkan dan menjawab suatu hal.
Metode ini merupakan komponen dari metode yang lain seperti: participation training, case studies, role playing, instrumentation, dll.
5. Participation Training
Adalah memberikan informasi pada peserta sekaligus memberikan kesempatan pada peserta untuk mempraktekkan dan memperbaiki ketrampilan mereka.
Metode ini digunakan untuk training yang berorientasi pada ketrampilan.
6. Case Studies
Dalam metode ini peserta diberi suatu 'kasus' yang berhubungan dengan materi pelatihan. Fasilitator bertanggung jawab atas hidup tidaknya diskusi kelompok, dan menyimpulkan hasil diskusi serta memperjelas persoalan-persoalan yang muncul. Peran fasilitator bukan pemberi pemecahan persoalan.
Tujuan :
Melatih peserta memecahkan masalah
Melatih kemampuan analisis
Melatih kemampuan mengevaluasi data
Meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan.
7. Role Plays
Tujuan:
Membantu pemahaman mengenai perilaku manusia dan meningkatkan ketrampilan bekerja dengan orang lain.
Memungkinkan peserta mendapatkan "insight" mengenai perilaku mereka sendiri serta reaksi orang lain terhadap perilaku tersebut dalam situasi yang aman dan tidak berisiko.
8. Instrumentation
Tujuan:
Mendapatkan data yang sesuai dengan topik pelatihan.
Menemukan perilaku baru yang dapat dijalankan dalam kondisi pelatihan
9. Simulation Games
Tujuan:
Menghasilkan sikap positif
Memperoleh keterlibatan peserta
Memberikan pengalaman serupa dengan dunia nyata
Memperagakan relevansi pengetahuan
Bereksperimen dalam situasi yang aman.
10. Structure experience
Tujuan:
Peserta melakukan semua aktivitas untuk menghasilkan sejumlah proses belajar.
Melihat reaksi peserta, mendiskusikan maknanya, menyimpulkan dan menggenaralisasikan pada aktivitas kehidupan sehari-hari.
11. Intensive growth group dan Intensive small group
Karakteristik utama: keterlibatan dan interaksi peserta tinggi. Peserta diharapkan mampu mengintegrasikan apa yang mereka pelajari menjadi konsep diri mereka yang baru.

Friday, January 28, 2011

penelitian psikologi komunitas

PENGANTAR
Komunitas-komunitas merupakan setting penelitian yang sangat berguna
Penelitian komunitas dapat diartikan sharing dengan warga beberapa aspek yang harus dikontrolnya dalam penelitian laboratorium
Komunitas adalah laboratorium yang sangat luas.
Dari komunitas, problematik penelitian yang harus dijawab, data lapangan dan sumber inspirasi bisa muncul untuk dijasikan sebagai pusat kajian ilmiah
LIMA (5) PERTANYAAN KUNCI PENELITIAN KOMUNITAS
1. Fenomena (Isu, Topik, Proses) apa kita akan studi?
2. Dari Perspektif teori dan nilai (value) apa kita akan melakukan studi?
3. Pada level analisis apa kita akan melakukan penelitian?
4. Dalam konteks kultural apa kita akan melakukan riset dan bagaimana kita akan memahami konteks?
5. Dalam hubungan dengan komunitas apa kita akan melakukan riset?
Perspektif Riset Komunitas
Epistemologi berhubungan dengan bagaiman pengetahuan didapatkan
Ada dua perspektif,
1. Positivistic: teknoligis: melakukan riset yang berhubungan dengan problem sosial. Peneliti mencoba untuk bebas nilai dan netral
2. Contextualist: Dialektis: Peneliti mencoba mempertentangkan dua posisi (definisi atau teori) yang digunakan. Caranya dengan cara memisahkan presim-premis secara tegas dan eksplisit, memperhatikan “suara yang tidak pernah didengar”, Memperkuat cara pandang
LEVEL ANALISIS EKOLOGIS RISET KOMUNITAS
Berhubungan dengan pertanyaan 3 yaitu pada level ekologis apa analisis akan diterapkan pada riset komunitas
Psikologi umumnya melihat level indicidu dalam analisisnya. Ketika level analisis ditingkatkan pada komunitas, maka pemahaman akan fenomena komunitas harus juga dipahami.
Kita harus memahami, apakah fenomena itu karan peran individu atau komunitas. Sehingga memilih analisis yang ekologis itu dapat tepat dilakukan
MEMAHAMI KONTEKS BUDAYA RISET
Berhubungan dengan pertanyaan 4 yaitu dalam konteks budaya apakah riset akan dilakukan dan bagaimana kita memami konteks tersebut?
Ada beberapa tantang melakukan studi untuk konteks budaya:
Asumsi bahwa populasi homogen: pemahaman akan keberagaman dalam setiap budaya harus melandasi pemikiran peneliti. Orang cenderung melihat beragam pada ingroupnya dan homogen pada out groupnya.
Asumsi bahwa metodologinya ekuivalen (seimbang). Apakah topik riset yang diteliti juga bisa diteliti dengan metode yang sama pada budaya lain
Rancangannya between-Group atau Within-Group. Berhubungan dengan konsep etic dan emik
Petunjuk untuk memahami konteks budaya dalam riset komunitas
Buatlah partnership yang kolaboratif antara antara peneliti dengan anggota suatu komunitas budaya tertentu
Definisikan budaya kelompok dalam istilah yang biasa mereka gunakan (dalam interpretasinya)
Mencari pemahaman adanya keragaman dalam kelompok atau komunitas budaya dan cari faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut
Gunakan metode penelitian kualitatif sebagai pendekatan yang utama
Apabila pengetahuan tentang berbagai faktor budaya masih minim, hindarkan usaha melakukan perbandingan budaya.
Selalulah berharap bisa memodifikasi setiap hal dalam komunitas budaya tersebut dengan menggunakan asumsi teori, teknik pengukuran, metode interview, analisis data , teknik statistik, dan metode pelaporan yang berbeda.
RISET KOMUNITAS SEBAGAI COLLABORATIVE PARTNETSHIP
Topik ini berhubungan dengan pertanyaan 5 yaitu dalam hubungan apa dengan komunitas kita melakukan riset.
Metaporanya adalah hubungan antara tamu dengan tuan rumahnya.
Riset dan tindakan sifatnya inseparable dan simultan. Karena itu hal ini menjadi tantangan
LIMA PRINSIP PARTNERSHIP RISET KOMUNITAS
Riset komunitas adalah pertukaran sumber daya
Riset komunitas adalah alat (tool) untuk tindakan sosial
Evaluasi tindakan sosial adalah dilandasi ethical imperative
Riset Komunitas menghasilkan produk yang berguna untuk masyarakat

psikologi komunitas

DEFINISI PSIKOLOGI KOMUNITAS
Berasal dari dua kata :
Komunitas: orang-orang yang berada pada suatu wilayah geografis tertentu, dan berkonotasi kelompok, bertetangga, dan memiliki struktur yang luas
Psikologi: adalah ilmu yang memiliki perhatian pada unsur individual, seperti: kognisi, motivasi, perilaku, perkembangan, dan proses-proses yang saling berhubungan diantara konsep-konsep tersebut
Apakah antara konsep “psikologi” dan “komunitas” merupakan istilah yang saling berlawanan?
PERGANTIAN PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI KOMUNITAS
Yang dimaksud PERGANTIAN/SHIFT adalah fokus dari psikologi komunitas bukannya pada individu itu sendiri melainkan hubungan antara individu dengan struktur sosialnya
Dalam buku ini dicontohkan dalam empat pergantian perspektif, yaitu tentang homelessnes (tuna wisma), situasi kehidupan yang digambarkan sebagai system-dependent dan nilai kemandirian (self-reliance) dan bagaimana para profesional dunia memiliki perhatian yang lebih pada gejala individual, dan bukannya hubungan antara kehidupan individu dengan komunitasnya
Self-Reliance
Self-reliance (kemandirian) adalah nilai inti pada sebagian besar masyarakat di Amerika dan masyarakat dengan budaya kapitalisme dan individualisme
Orang yang Self-reliance memiliki ciri-ciri : memperhatikan (take-care) diri sendiri, pengambilan keputusannya independen, dan menghindari ketergantungan pada pihak lain.
Kenyataan masyarakat di dunia, semua orang itu tergantung pada orang lain.
Masalahnya : bila individu ini mengalami masalah seperti sakit, atau problem-problem pribadi.
Psikologi komunitas memiliki perhatian pada bagaimana mengembangkan COPING terhadap masalah pribadi ini sehingga mereka bisa adaptasi
Tahapan aplikasi dalam memecahkan problem sosial
Pergantian perspektif juga harus terjadi pada psikologist bidang komunitas memandang proses perubahan dalam komunitas
First-order-change: adalah mencoba mengatasi masalah tidak pada pokok persoalan. Contoh: Anak yang bermasalah dikeluarkan dari sekolah.Masalah perumahan diselesaikan dengan semangat cari kerja
Second-order-change: akan mengubah hubungan antara individu dalam setting kehidupannya. Asumsinya setting akan memiliki fungsi dalam menyelesaikan masalah individu
Pergantian perspektif juga harus terjadi pada psikologist bidang komunitas memandang proses perubahan dalam komunitas
1. First-order-change: adalah mencoba mengatasi masalah tidak pada pokok persoalan. Contoh: Anak yang bermasalah dikeluarkan dari sekolah.Masalah perumahan diselesaikan dengan semangat cari kerja
Second-order-change: akan mengubah hubungan antara individu dalam setting kehidupannya. Asumsinya setting akan memiliki fungsi dalam menyelesaikan masalah individu
2. COLLABORATION AND COMMUNITY STRENGTHS: Psikologist bekerja dalam masyarakat sebagai ahli, peneliti, klinisi, konsultant, dan peran lain yang sama.
RESPECT FOR HUMAN DIVERSITY: Memahami individu dalam keragaman sangat dibutuhkan agar tidak memaksakan nilai dan merusak nilai dalam masyarakat
3. EMPIRICAL GROUNDING: seorang psikologist komunitas melakukan tugasnya sebagai participant-conceptualizer
SEJARAH PSIKOLOGI KOMUNITAS
Psikologi Komunitas memiliki akar yang kuar dari budaya AS.
Budaya ini sangat individualisme, dimana unsur individu (kadang keluarga) memiliki peran yang sangat dominan dalam komunitas yang lebih luas.
Individualisme memiliki dua bentuk :
1. Utilitarian
Ekspresif
Kelemahan individu : blaming the victim yang melihat aspek individu sebagai penyebab dari problem personal. Misalnya: kemiskinan karena malas
2. INDIVIDUALISME MODERAT
Individualisme menjadi moderat ketika munculnya tradisi budaya lain.
Tiga tradisi yang mempengaruhi pemikiran
1. Citizen partisipation
2. Religion and spirituality
3. Liberation (kebebasan)
Salah satu alternatif pandangan untuk memahami individualisme adalah pembedaan Ryan (1994) tantang orientasi nilai fair play dan fair share
PENGARUH INDIVIDUALISME TERHADAP PSIKOLOGI
Individualisme memiliki pengaruh terhadap perspektif psikologi terutama dalam hal penyempitan fokus kajian yang lebih individualis daripada individu dalam konteks
Contoh:
Kenakalan remaja lebih dilihat sebagai akibat remaja yang memiliki karakter kepribadian yang salah, bukannya melihat karakter kepribadian dalam setting sosial
PENGARUH PERUBAHAN SOSIAL-POLITIK
HIPOTESIS LEVINE AND LEVINE tentang perubahan sosial-politik masyarakat AS akan mempengaruhi keyakinan tentang problem-problem sosial dan tindakan untuk mengatasi problem tersebut.
Ada dua era waktu dalam sejarah Amerika:
PROGRESSIVE TIME. Pada era ini penjelasan lingkungan terhadap masalah sosial lebih tepat untuk mengatasi masalah sosial
CONSERVATIVE TIME. Pada era ini penjelasan individualistik lebih tepat untuk menyelesaikan masalah sosial
Periode 1890-1914
Adalah Progressive Time
Problem sosial hampir mirip dengan situasi saat kini
Problem yang terjadi saat itu antara lain: masalah perumahan, problek psikologi klinis, kontrol kelahiran dan gerakan kesehatan ibu, dan masalah hak asasi.
Periode 1919-1932
Adalah conservative time.
Masalah sosial dialamatkan dan disebabkan oleh individu.
Penyebabnya : gerakan eugenics dan tes inteligensi
Periode Pasca Perang Dunia II
Munculnya kesadaran pentingnya psikologi komunitas
Ada 4 tekanan yang membutuhkan perhatian
Preventive perspective gangguan psikologi dan problem kehidupan
Reformasi dalam pemeliharan kesehatan mental sebagai akibat perang
Munculnya action research dan dinamika kelompok
Dampak munculnya gerakan-gerakan dalam perubahan sosial seperti: tuntutan hak-hak sipil, feminisme, lingkungan, dan gerakan hak guy dan lesbian
Swamscott Conference tahun 1965
Psikologi Komunitas menjadi studi
Konsep psikologist komunitas sebagai participant-conceptualizer
Periode 1960-an dan 1970-an
Psikologi komunitas membedakan diri dengan kesehatan mental komunitas dalam bidang kajiannya
Keterbatasan dana pemerintah dalam menangani masalah sosial mulai tampak dan mengakibatkan perubahan kebijakan dalam menangani masalah sosial
Psikologi komunitas lahit di Amerika Latin dengan perhatian lebih pada masalah keadilan sosial
Bidang kajian lebih jelas lagi ketika ada Austin Conference tahun 1975
Ada 4 Trend dalam Psikologi Komunitas
Prevensi dan promosi kompetensi
Community-building, Citizen partisipation dan empowerment
Human Diversity
Adventuresome research
Perkembangan PK Dewasa Ini
Pada beberapa negara, termasuk AS, psikologi komunitas bekerja dalam conservative social context.
Perubahan dari periode progresif ke periode konservatif ini sejalan dengan analisis Levine and Levine.
Dalam pertumbuhannya, saat ini masalah komunitas lokal menjadi perhatian dalam psikologi komunitas

Tuesday, January 25, 2011

kepribadian kode warna

Kepribadian Kode Warna
The Color Code (Taylor Hartman, 2004)

-Kepribadian adalah profil umum tentang diri seseorang------
Bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dalam kekhasan.
-Juga, kepribadian sering disebut karakter.
-Kepribadian adalah inti padat dari sifat-2 yang mencerminkan
esensi unik seorang manusia.

Kepribadian adalah bawaan (bukan hasil belajar)

Tipe Kepribadian Kode Warna
1. Merah
2. Biru
3. Putih
4. Kuning

-Merah, melambangkan api == semangat menyala
-Biru, melambangkan tanah= pijakan yang kuat
-Putih, melambangkan air= mengalir
-Kuning, melambangkan angin= bertiup ke mana-mana










MERAH BIRU PUTIH KUNING
Kekuasaan Keintiman Kedamaian Kesenangan
Tampak hebat
(secara teknis) Menjadi baik
(secara moral) Merasa nyaman
(di dalam hati) Tampak hebat
(secara sosial)
Menjadi pihak yang benar Dimengerti Diberi ruang
Sendiri Diperhatikan
Dihormati Dihargai Dihormati Dipuji
Disetujui se-jumlah orang terpilih Penerimaan Toleransi Persetujuan orang banyak
Menyembunyikan rasa tidak aman (kuat-kuat) Mengungkap-kan rasa tidak aman Menyimpan rasa tidak aman Menyembunyi-kan rasa tidak aman (longgar)
Produktivitas Kualitas Kebaikan Kebahagiaan
Kepemimpinan Otonomi Kemandirian Kebebasan
Petualangan yang menantang Keamanan Rasa puas Petualangan yang menyenangkan
Motif ==

Kebutuhan
======









Keinginan
======























TIPE KEPRIBADIAN DAN KARIR
Merah: Si Pengguna Kekuasaan
Karir yang mungkin menarik Merah
-Administrator -Pengacara -Kontraktor bangunan
-Perwira polisi -Dokter -Tenaga penjualan
-Perwira militer -Akuntan pajak -Pemasaran
-Politisi -Pebisnis real Estate -Pemuka agama
-Pengusaha -Kritisi profesional -Penilik sekolah
Catatan: Merah mempunyai dorongan semangat paling alamiah untuk mendaki tangga kesuksesan

Biru: Si Pelaku Kebajikan
Karir yang mungkin menarik Biru
Guru Bangkir Perawat
Ibu rumah tangga Pemuka agama Insinyur
Psikoterapis Akuntan Pustakawan
Programer komputer Politisi Jurnalis
Musisi Arsitek Perajin kayu
Catatan: Biru adalah kepribadian yang paling mampu beradaptasi dalam dunia karir.

Putih : Si Penjaga Kedamaian
Karir yang mungkin menarik Putih:
Penjaga hutan Pemimpin rekreasi Dokter hewan
Dokter gigi Peneliti Pengacara
Birokrat Ibu rumah tangga Insinyur
Programer komputer Perwira polisi Agen dinas inteligen
Karir militer Guru taman kanak-kanak Pengemudi truck
Putih dan kuning biasanya paling kurang termotivasi untuk berhasil dalam dunia karir.

Kuning: Si Pecinta Kesenangan
Karir yang mungkin menarik Kuning:
Pemadam kebakaran Petugas penyelamat Sekretaris
Konsultan internasional Ahli kecantikan Resepsionis
Agen perjalanan Orang panggung Bagian penjualan
Pemimpin rekreasi Pramuwisata Retail
Pemain sirkus Pemuka agama

Kuning secara umum kemampuannya paling rendah untuk secara konsis- ten komit pada tuntutan meraih keberhasilan finansial atau dunia karir.

Kekuatan Karakter Umum Setiap Warna Kepribadian
NO MERAH BIRU PUTIH KUNING
1 Setia pada tugas Setia pada orang Toleran Positif
2 Komit Komit Sabar Pemaaf
3 Memiliki visi ke depan Berorientasi pada kualitas Mau berkerja
sama Bersahabat
4 Logis Tulus Menerima Optimis
5 Pemimpin Jujur Objektif Percaya
6 Terfokus Penuh tekad Seimbang Menghargai
7 Bertanggung jawab Bermoral Hebat dalam mendengarkan Terbuka


Keterbatasan Karakter Umum Setiap Warna Kepribadian
NO MERAH BIRU PUTIH KUNING
1 Sombong (arogan) Merasa diri paling benar Takut-takut Tidak komit
2 Tidak peka Menghakimi Diam-diam keras kepala Tidak konsisten
3 Buruk dalam mendengarkan Mudah depresi Tidak jujur secara emosional Banyak tingkah
4 Tidak taktis Suka mengatur Malas Tidak bertanggung jawab
5 Pemberontak Suka memaafkan Tidak mau terlibat Pemberontak
6 Kritis pada orang lain Curiga Tergantung Terpusat pada diri sendiri
7 Tidak sabar Tidak rasional Tidak punya arah Permisif



Demografi dan Kepribadian

Komposisi populasi
Merah 25 %
Biru 35 %
Putih 20 %.
Kuning 20 %

Contoh Bangsa-Bangsa di Dunia
Merah: Cina, Jepang, Jerman
Biru: Amerika serikat, Inggris, Denmark
Putih: Finlandia, Swiss, Kanada
Kuning: Meksiko, Brazil, Australia

Hubungan antar Tipe Kepribadian

1. Kesamaan komplementer
-Merah - Kuning
-Biru - Putih

2. Berlawanan tidak komplementer
-Merah – Biru

3. Berlawanan komplementer
-Merah – Putih
-Kuning – Biru

4. Berlawanan Nyaman
-Kuning - Putih

Orang berperilaku dalam empat pola dasar.
1. Berkarakter
2. Sehat
3. Tidak sehat
4. Sakit secara psikologis




















MERAH Si PENGGUNA KEKUSAAN
1. Aktif dan produktif
2. Visionaris
3. Tidak sensitif dan egois
4. Raja rimba
5. Menuntut dan banyak kritik
Merasa tidak aman
Harus selalu benar
Suka bersaing dan berani bertindak
Ngotot dan menuntut banyak
Asertif dan penu tekat
Tidak mau kalah
Banyak akal dan mengandalkan diri sendiri
Pantang menyerah dan tidak sabar
Lihai dan manipulatif
Tidak memiliki orientasi keintiman

teori kreativitas

TEORI KREATIVITAS

[]> Pendekatan yang digunakan:
1. Kognitif
Menekankan pada kemampuan berpikir/ fungsi intelektual.

2. Kepribadian
Menekankan pada karakteristik kepribadian tertentu sebagaimana dimiliki orang-orang kreatif.

3. Integratif atau komponential
Melibatkan komponen-komponen:
+ kognitif dan kepribadian;
+ individu dan lingkungan.

4. Otak manusia (human brain)
Menggunakan pendekatan pada fungsi otak manusia dan aktivitas otak manusia.


Teori-Teori Kreativitas


Teori Kognitif
1. Teori Asosiasi
2. Teori Gestalt
3. Teori Pemrosesan Informasi
4. Teori Psikoanalisis
5. Teori Struktur Intelek
Teori Kepribadian
1. Teori Psikologi Humanistik
Teori Komponential
1. Teori Psikologi Sosial
2. Teori Komponen
3. Teori Investasi
4. Teori Sistem
5. Teori Psiko-komponential
Teori Otak Manusia
1. Teori otak kiri otak kanan (half brain function)
2. Teori gelombang otak (brain waves)

Teori Asosiasi
- Berpikir merupakan asosiasi berbagai gagasan, dan berasal dari pengalaman.
- Hukum: frekuensi, kekinian, kejelasan
- Gagasan baru dikembangkan dari gagasan lama melalui trial & error.
- Kreativitas merupakan pengaktifan koneksi mental untuk menemukan kombinasi gagasan
a. Kreativitas dilakukan melalui asosiasi langsung atau analogi
b. Makin banyak asosiasi makin kreatif
Teori Gestalt
- Kreativitas => pembentukan Gestalt dari pola-pola yang kurang berstruktur.
- Kreativitas dimulai dari permasalahan.
- Kreativitas; menghasilkan gagasan baru/ insight melalui imajinasi; bukan melalui pikiran logis yang realistis.

Teori Pemrosesan Informasi
Dasar teori: proses pemecahan masalah
- Komponen masalah:
Present state, future state, rule



- Jika ketiga komponen itu tidak jelas atau tidak pasti, maka diperlukan pemecahan kreatif.

Teori Psikoanalisis (S. Freud)
a. Berpikir proses primer
- Unconscious (ketidaksadaran)
- Prinsip kenikmatan/kesenangan
- Berorientasi pada diri individu
- Energi psikis besar
b. Berpikir proses sekunder
- Conscious (kesadaran)
- Prinsip realitas
- Berorientasi pada lingkungan
- Energi psikis lebih sedikit
c. Kreativitas merupakan sublimasi karena konflik intra-psikis (a dan b)
d. Neopsikoanalisis ==>
- Kreativitas => hasil pikiran prasadar, bukan bawah sadar
- Kreativitas => pikiran rileks,
ego bebas dari konflik

Teori Struktur Intelek (Guilford)
Dasar: Divergent thinking
Kemampuan Berpikir Diverjen
1. Fluency
Kelancaran berpikir;
- Kemampuan menghasilkan gagasan banyak
2. Flexibility
Keluwesan dalam memikirkan sesuatu.
a. Memandang sesuatu/masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
b. Menggunakan pendekatan berbeda-beda terhadap suatu masalah.
3. Originality
Keaslian berpikir:
a. Berpikir tidak umum/lazim (unusual)
b. Unik
c. Hasil pemikiran sendiri (bukan tiruan)
4. Elaboration
Kemampuan merinci gagasan pokok

Teori Psikologi Humanistik (C. Rogers)
Tiga komponen pokok:
a. Proses kreatif
1) Hasil karya (tangible product)
2) Baru
3) Tidak terbatas bidang tertentu
b. Individu
1) Motivasi ===> aktualisasi diri
2) Ekstensionalitas >< pertahanan psi. 3) Evaluasi internal >< eksternal 4) Kemampuan bermain-main dengan elemen dan konsep (eksperimen) c. Lingkungan - Keamanan & kebebasan psikologis - Diciptakan melalui: + menerima individu apa adanya + tanpa penilaian dari luar + pemahaman secara empati Teori Komponen (Urban, 1996) Kreativitas: Interaksi komponen kognitif dengan kepribadian ===> Cognitive components
1. Divergent thinking and acting
2. General knowledge and thinking base
3. Specific knowledge base and area specific skills

===> Personality components
4. Focusing and task commitment
5. Motivation and motives
6. Openness and tolerance of ambiguity

Teori Psikologi Sosial (Amabile, 1983)
a. Pendekatan
Kerangka kerja komponential
b. Batasan kreativitas
1) Tugas/task ==> heuristik
2) Jawaban ==> tepat, benar, berguna
c. Kriteria karya kreatif
Tergantung penilaian ahli di bidangnya
d. Tiga komponen yang terlibat
1) Domain relevant skills
- Knowledge based domain
2) Creative relevant skills
- Gaya kognitif
- Pengetahuan heuristik
- Gaya kerja yang kondusif
3) Task motivation
Intrinsic motivation >< extrinsic motivation Teori Investasi (Sternberg&Lubart, 1995) Prinsip ide ==>
++ Buy low, sell high
++ Sinergi atau keseimbangan berbagai sumber kapasitas individu dan lingkungan
Sumber kapasitas/kreativitas

1. Intelligence
Sintetis, analitis, dan praktis
2. Knowledge
Pengetahuan formal dan informal
3. Thinking styles
Legislative style >< executive 4. Personality - Perseverance in facing obstacles - Willingness to take sensible risk - Willingness to grow - Tolerance of ambiguity - Openness to experience 5. Motivation - Intrinsic and extrinsic - Achievement motivation - Self-actualization - Organization ==> work and live
- Need for novelty

6. Environmental context
- Context of work
- Task constraints
- Evaluation
- Competition
- Cooperation
- Home climate
- School climate
- Societal ambiance

==TEORI SISTEM==
(Csikszentmihalyi, 1996)

Creativity is any act, idea, or product that changes an existing domain, or that transform an existing domain into a new one.

A creative person is someone whose thoughts or actions change a domain, or establish a new domain.

Asumsi:
1. Creativity with a capital C = Change some aspects of the culture, is never only in the mind of person.
- dipahami orang lain
- lulus seleksi dari pakar bidang
- dimasukkan dalam kawasan tertentu

2. Creativity is not what is it but where is it.

Creativity can be observed only in the interrelations of a system made up of three main parts or components: domain, field, and individual person.

Tiga Komponen Sistem Kreatif
1. Domain (kawasan)
Terdiri: aturan-aturan simbolik dan prosedur. Misalnya matematika, teori, yang semua itu bagian dari budaya yang diwariskan.
2. Field (lapangan)
Terdiri: semua orang yang bertindak sebagai gatekeepers pada suatu kawasan. Mereka memutuskan apakah ide baru atau karya baru dapat dimasukkan ke dalam kawasan tersebut atau tidak.
Contoh bidang seni visual: guru seni, kurotur museum, kolektor seni, kritikus seni, dan administrator yayasan dan pemerintah yang mengurus seni.
3. Individual person
Kreativitas terjadi jika seseorang mempunyai gagasan baru atau melihat suatu pola baru dengan menggunakan simbol suatu kawasan (musik, teknologi, bisnis, atau matematika), dan jika hal baru tersebut telah diseleksi oleh orang-orang yang berkompeten di bidang/ kawasan tersebut.























1. Left hemisphere of the brain (otak kiri):
- Analitical cognition, linear, sequential processing.
- Verbal and linguistic tasks.

2. Right hemisphere of the brain (otak kanan):
- Syncretic cognition, parallel & global processing.
- Simbolic nonverbal behaviors.
- Expression and recognition of emotion.








4 Brain States, by electrical wafe (EEG)
1. Beta wave
Logical thinking and concrete problem solving
2. Alpha wave
Rilex such as daydream, imagine or visualize
3. Theta wave
The unconscious mind, and are active during dream sleep and deep mediaton; repository of our repressed emotion, suppressed creativity
4. Delta wave
As a kind of radar, deepest level of unconscious mind, reflecting strong inner knowledge, deepest stages of sleep

psikodiagnostik

TES GRAFIS SEBAGAI ALAT PSIKODIAGNOSTIK

Pendahuluan

Dalam dekade terakhir, pemeriksaan psikologi mempunyai pengaruh besar pada kehidupan manusia Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang bersekolah, masuk perguruan tinggi, melamar pekerjaan, ikut seleksi untuk menduduki jabatan tertentu, pernah mengikuti suatu pemeriksaan psikologi. Pemeriksaan psikologi yang mereka jalani tidak selalu sama, tergantung dari tujuan pemeriksaan dan alat pemeriksaan yang digunakanpun berlainan. Misalnya siswa Taman Kanak-kanak menjalani pemeriksaan psikologi agar dapat diketahui kesiapan anak untuk mengikuti pelajaran di Sekolah. Tes yang berbeda dipakai untuk siswa kelas 11 Sekolah Menengah Umum yang bertujuan untuk menentukan apakah yang bersangkutan lebih sesuai untuk jurusan IPA, IPS, BAHASA atau DLL 
Dengan semakin meningkatnya penggunaan jasa psikologi dalam berbagai bidang, maka tidaklah mengherankan apabila muncul banyak biro psikologi dan meningkatnya peminat untuk mengikuti pendidikan psikologi karena psikologi kini dianggap sebagai lahan yang dapat memberikan penghasilan yang layak. Untuk berbicara lebih jauh tentang psikologi dan tes psikologi, kita perlu meninjau sejarahnya.
Sebenarnya psikologi sebagai suatu ilmu baru berkembang di abad ke 19 di Eropa, walaupun sudah sejak jaman dulu Plato dan Aristo telah menulis tentang adanya perbedaan-perbedaan individual. Para ilmuan Jerman-lah yang mulai mengembangkan ilmu psikologi pada akhir abad 19, yaitu Fechner, Wundt, Ebbinghaus dan sebagainya. Penelitian-penelitian yang dilakukan para psikiater dan psikolog perancis di bidang gangguan-gangguan mental mempengaruhi perkembangan tehnik-tehnik assessment Klinis dan tes dan ini berakibat pada pengembangan tes prestasi dan skala psikologi yang dibakukan. Ilmuan lainnya yang terlibat dalam pengembangan alat ukur psikologi yang dianggap menonjol pada jaman itu adalah Galton dari Inggris, Cattell dari Amerika dan Binet dari Perancis.
Pionir lainnya adalah Spearman yang mengembangkan teori tes, Terman yang mengembangkan tes kecerdasan sedangkan Woodworth dan Rorschach mengembangkan tes kepribadian. Edward Strong berkecimpung dalam pengembangan tes minat.
Dengan terjadinya Perang Dunia I, sekelompok psikolog di Amerika Serikat mengembangkan tes untuk mengukur kemampuan mental, khususnya tes inteligensi untuk ribuan tentara Amerika selama Perang Dunia I dan sesudahnya. Tes ini dikenal dengan Army Alpha untuk yang berpendidikan dan Army Beta untuk yang tidak berpendidikan. Tes yang dikembangkan Woodworth adalah inventori kepribadian yang pertama dibakukan dan digunakan dalam seleksi tentara, dikenal sebagai Personal Data Sheet. Sejak tahun 1920-an bidang testing psikologi berkembang dengan pesat dan kini ratusan tes psikologi dibuat dan dijual, terutama di negara-negara barat. Untuk mengetahui tes apa saja dan apa tujuan tes tersebut, dapat ditelusuri melalui berbagai katalog yang diterbitkan instansi-instansi penjual tes. Makalah ini memberikan sedikit gambaran tentang tes psikologi terutama tes grafis yang banyak dipakai dalam pemeriksaan psikologi di Indonesia.

Klasifikasi Tes
Apabila kita ingin menggunakan suatu tes tertentu, perlu diketahui secara mendalam tes tersebut, yaitu:
- Tujuan tes tersebut
- Tes dapat diberikan secara individual atau kelompok
- Standardisasi tes : norma, validitas, reliabilitas
- Tes obyektif atau non-obyektif
- Administrasi tes
- Latar belakang teoretik tes tersebut
- Apakah tes sesuai untuk digunakan di Indonesia

Tanpa penguasaan yang mendalam tentang tes yang digunakan disamping latar belakang teoretik (psikodinamika) yang memadai, maka hasil tes berupa angka atau grafik dan sebagainya tidak akan bermanfaat banyak, bahkan ada kemungkinan terjadinya kesalahan dalam analisis sehingga akan merugikan si pemakai jasa. Ratusan tes psikologi yang kini diperjual-belikan dapat dimasukkan dalam kelompok-kelompok menurut tujuan atau sifatnya.

1. Tes Individual dan tes kelompok
Tes individual adalah tes yang diberikan perorangan yaitu tester berhadapan dengan testee, misalnya tes Rorschach, Stanford Binet Intelligence Test dan Wechsler Bellevue Intelligence Scale. Tes kelompok diberikan tester pada sekelompok testee, misalnya Progressive Matricee-60 dari Raven dan Tes Kode.

2. Sekelompok Speed & Power test, yang didasarkan atas batas waktu tes. Speed test terdiri dari banyak soal yang mudah akan tetapi waktu sangat dibatasi sehingga hampir tidak ada yang selesai dalam batas waktu yang diberikan. Sedangkan power test adalah kebalikan dari speed test. Tes ini terdiri dari banyak item yang sukar.

3. Kelompok tes obyektif dan non-obyektif, yang didasarkan atas sistem penilaian. Suatu tes obyektif mempunyai standar penilaian yang obyektif yang sudah ditentukan. Seorang bukan psikologpun dapat melakukan penilaian tetapi tidak dapat melakukan interpretasi. Sebaliknya, melakukan penilaian terhadap tes essay dan berbagai macam tes kepribadian seringkali bersifat subyektif dan 2 orang penilai akan memberikan hasil yang mungkin berbeda.

4. Klasifikasi lain yang disesuaikan dengan isi atau proses adalah kelompok tes kognitif dan tes afektif. Tes kognitif mengukur proses-proses dan hasil kemampuan mental (kognisi) dan seringkali disebut sebagai tes prestasi dan bakat. Suatu tes prestasi menjaring pengetahuan subyek tentang topik tertentu dan terfokus pada perilaku yang telah lalu, yaitu apa yang pernah dipelajari dan dicapai. Bedanya dengan tes bakat adalah bahwa tes bakat memusatkannya pada perilaku yang akan datang yaitu kemampuan subyek untuk belajar dengan latihan yang sesuai. Misalnya : tes untuk bakat mekanis dan klerikal dikembangkan untuk menarik manfaat dari latihan lebih lanjut dalam tugas-tugas mekanis dan klerikal. Tetapi sebenarnya prestasi dan bakat tidak dapat dipisahkan karena apa yang telah dicapai seseorang di masa lalu biasanya merupakan indikator cukup baik untuk sesuatu yang diharapkan di masa mendatang. Berbeda dengan kelompok diatas adalah kelompok tes afektif yang dirancang untuk menjaring minat, sikap, nilai, motif, ciri-ciri temperamen dan aspek-aspek non-kognitif dari kepribadian. Berbagai tehnik diciptakan untuk menjaring tujuan ini, misalnya observasi perilaku, inventori dan tehnik proyektif.

Friday, January 21, 2011

problem solve

PEMECAHAN MASALAH
A. Berpikir
Berpikir merupakan aktivitas kognitif yang lebih tinggi (Higher Order Cognition) dan melibatkan proses-proses kognitif yang lebih rendah (Lower Order Cognition) misalnya persepsi, ingatan, dan konsep-konsep. Pada umumnya berpikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan suatu masalah atau kesulitan.
Pemikiran menggunakan beberapa asumsi :
 Setiap komponen proses kognitif tidak dapat dipisahkan dengan komponen lainnya.
 Proses-proses kognitif yang lebih tinggi (HOC) didasarkan pada proses-proses yang lebih rendah (LOC).
 Aktivitas pemecahan masalah atau pembentukan konsep elibatkan proses berpikir juga penalaran.
Berpikir dapat didefinisikan sebagai proses menghasilkan representasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara komplek antara atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah (Glass da Holyoak, 1986; Solso, 1988).
Proses berpikir normal meliputi tiga komponen :
 Berpikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi dalam mental atau pikiran seseorang.
 Berpikir merupaan proses yang melibatkan beerapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif. Pengetahuan ang pernah dimiliki diabung dengan informasi sehingga mengubah pengetahuan seseorang mengenai situasi yang sedang dihadapi.
 Aktivitas berpikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah.
B. Masalah (Problem)
Masalah/problem merupakan kesenjangan antara situasi yang dihadapi sekarang (present state) dengan tujuan yang diinginkan (desired goal or future state ). Keadaan sekarang disebut original state, sedangkan keadaan yang diharapkan disebut final state.
Secara visual suatu masalah melibatkan tiga komponen :
• Suatu keadaan sekarang atau yang sedang dihadapi (start).
• Keadaan atau tujuan yang diinginkan (goal).
• Prosedur atau aturan yang akan ditempuh apakah menurut pendekatan algoritmik atau heuristik.

C. Jenis Masalah
Secara umum masalah dapat dibedakan : masalah yang jelas dan masalah yang tidak jelas. Psikologi kogniyif mempelajari masalah-masalah yang memiliki tingkat kesulitan sedang, sehingga dapat diketahui bagaimana proses-proses kognitif yang terlibat di dalamnya. Misalnya, inducing structured, problem, transformation problem, dan arrangement problem.
Masalah yang jelas dan masalah yang tidak jelas
Berdasarkan tingkat masalah yang dihadapi, Evans (1991) membagi masalah menjadi 4 macam.
a) Masalah-masalah baik situasi sekarang maupun situasi yang diinginkan, keduanya diketahui. Jenis ini merupakan masalah –masalah yang mudah dipecahkan, termasuk masalah yang memiliki struktur jelas atau structured problem.
b) Masalah yang diketahui hanya pada situasi sekarang, tetapi situasi yang diinginkan tidak diketahui.
c) Masalah situasi yang diinginkan diketahui, tetapi situasi sekarang tidak diketahui. Jenis kedua dan ketiga ini termasuk kategori yang memiliki tingkat kesulitan sedang.
d) Masalah-masalah yang baik situasi sekarang maupun situasi yang diinginkan tidak diketahui. Jenis keempat ini merupakan masalah yang sangat kompleks atau sulit dipecahkan, termasuk unstructured problem.
Menurut Greeno (dalam Ellis and Hunt, 1993) masalah atau pronblem dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan proses-proses kognitif yang terlibat di dalam pemecahan masalah yaitu : inducing structured problem, transformation problem dan arrangement problem.
a) Inducing structured problem
Jenis masalah ini meminta seseorang untuk menemukan pola yang akan menghubungkan elemen-elemen masalah, antara satu elemen dengan yang lain.
b) Transformation Problem
Jenis maslah ini seseorang harus memanipulasi atau mengubah obyek-obyek dan simbol-simbol menurut aturan tertentu agar diperoleh suatu pemecahan.
c) Arrangement Problem
Jenis masalah ini seseorang harus mengatur atau menyusun ulang elemen-elemen suatu tugas agar diperoleh pemecahan.
D. Tahapan Pemecahan Masalah
Menurut Evans (1991) pemecahan masalah adalah suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan dan pengubahan kondisi sekarang (present state) menuju kondisi yang diharapkan (future state atau desired goal).
Langkah-langkah pemecahan masalah meliputi : pemahaman masalah, mencari beberapa gagasan bagi pemecahan, memilih salah satu yang paling memungkinkan, kemudian melaksanakan serta mengevaluasi hasil-hasilnya.
Pemahaman Masalah (Problem Understanding)
Agar dapat diperoleh suatu pemecahan yang benar, seseorang harus terlebih dahulu memahami dan mengenali gambaran pokok pesolan secara jelas.
Representasi Mental
Representasi masalah menunjuk pada proses mempersepsi dan menginterpretasi pokok persoalan. Aktivitas akan menghasilkan sejumlah identifikasi yang meliputi : (1) apa yang menjadi permasalahan sesungguhnya, (2) apa yang menjadi kriteria pemecahan, (3) keterbatasan-keterbatasan tertentu, dan (4) berbagai acam alternatif bagi pemecahan masalah.
Ruang Masalah
Ruang masalah juga sangat menentukan tingkat kemudahan atau kesulitan seseorang untuk mencari pemecahannya. Sebagai pegangan bahwa makin luas ruang suatu masalah maka makin sulit mencari jalan keluar atau pemecahannya.
Kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang diinginkan
Jarak kesenjangan antara keadaa yang sedang dihadapi sekarang (present state) dengan keadaan yag diinginkan (desired goal) juga mempengaruhi tingkat kemudahan atau kesulitan orang dalam memecahkan masalah.
E. Cara-Cara Mempresentasikan Masalah
Representasi masalah merupakan hal yang penting baik bagi pemahaman masalah maupun untuk mencari jalan keluarnya.Cara-cara yang dapat ditempuh untuk mempresentasikan masalah adalah membuat daftar sifat, metrik, pohon bercabang, grafik dan gambar.
 Simbol
Salah satu cara yang dianggap efektif untuk mempresentasikan persoalan yang abstrak ialah melalui simbol.
 Daftar
Representasi masalah di dalam bentuk daftar sifat-sifat sangat membantu memecahkan masalah. Namun jika suatu masalah cukup rumit dan memiliki banyak sifat serta dimensi yang berbeda-beda, seseorang akan mengalami kesulitan sehingga model ini menjadi tidak efektif lagi untuk mempesentasikan masalah itu.
 Metrik
Metrik adalah suatu bagan (chart) yang menunjukkan kemungkinan sejumlah kombinasi. Metrik juga membantu terutama jika masalah begitu kompleks.
 Diagram pohon bercabang hirarkhis
Diagram seperti pohon bercabang menunjukkan duakali lebih sukses seperti juga penggunaan daftar dalam menghasilkan jawaban yang benar.
 Grafik
Jika masalah tidak dapat dipresentasikan dalam bentuk simbol, daftar sifat, metrik, dan diagram pohon bercabang, namun harus digunakan bentuk representasi yang lain karena dianggap lebih cocok.
F. Metode Pemecahan Masalah
Metode atau strategi pemecahan masalah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Algoritmik
Suatu strategi yang menjamin ditemukan suatu pemecahan. Algoritmik bersifat deterministik. Contoh strategi algoritmik: penemuan secara acak (random search) baik sistematis maupun tidak sistematis. Metode penemuan secara acak hanya efisien pada ruang masalah yang sempit.
2) Heuristik
Adalah proses penggunaan pengetahuan seseorang untuk mengidentifikasi sejumlah jalan atau cara yang akan ditempuh dan dianggap menjanjikan bagi penemuan pemecahan suatu masalah. Strategi yang bersifat kecenderungan dan masih mengandung kemungkinan gagal. Namun kebanyakan sehari-hari orang banyak menggunakan strategi heuristik. Heuristik bersifat probalistik. Pendekatan heuristik pada ruang permasalahan yang luas. Contohnya: metode kedekatan, pengujian hipotesis, membagi masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, metode pencarian dengan langkah maju atau mundur, analogi atau pencocokan.
3) Proximity Methods
Seseorang menempuh jalan atau cara yang dipersepsi lebih mendekati tujuan yang diinginkan.
4) Analogi
Analogi merupakan cara yang sering digunakan orang, terutama hal ini sangat berguna bagi masalah yang relatif baru. Analogi dapat dilakukan dengan cara membandingkan pola masalah yang tengah dihadapi dengan pola masalah serupa yang pernah dialami baik oleh yang bersangkutan atau orang lain.
5) Maching
Seseorang memahami situasi yang tengah dihadapi dengan tujuan yang diinginkan.
6) Generate-Test Method
Pemecahan masalah membutuhkan dua tahapan proses. Pertama, satu cara atau strategi pemecahan yang paling memungkinkan dicari atau dihasilkan. Kedua, gagasan pemecahan yang dihasilkan itu lalu diuji apakah dapat berjalan dengan baik atau efektif. Jika belum berhasil, akan dicari pemecahan lain yang paling memungkinkan kemudian diuji atau dipraktekkan. Cara seperti ini terus dilakukan sampai akhirnya ditemukan jalan pemecahan atas masalah itu.
7) Means-Ends Analysis
Strategi ini memfokuskan perhatian seseorang pada perbedaan antara keadaan yang dihadapi dengan keadaan yang diinginkan.
8) Backward Search
Strategi ini dilakukan dengan berjalan mundur. Maksudnya, meminta orang memulai pada tujuan yang diinginkan (goal state)dan bergerak mundur menuju pada keadaan yang dihadapi semula (original state)
9) Forward Search
Strategi berjalan ke depan. Seseorang mulai dari kenyataan yang dihadapi, kemudian secara bertahap bergerak menuju pada tujuan akhir yang diinginkan.
G. Penghalang Mental di dalam Proses Pemecahan Masalah
 Functional Fixedness
Keterpakuan fungsional berarti seseoarng beranggapan bahwa fungsi dan kegunaan suatu objek atau benda adalah cenderung stabil dan menetap sepanjang waktu. Dengan kata lain, seseorang hanya memandang suatu benda berfungsi sebagaimana dirancang atau diinginkan oleh pembuatnya.
 Mental Set atau Persistence of Set
Fenomena ini menunjuk pada kecenderungan orang untuk mempertahankan aktifitas mental yang telah dilakukan secara berulang-ulang dan berhasil ketika ia menghadapi masalah serupa namundi dalam situasi yang baru atau berbeda.
 Perceptual Added Frame
Penambahan bingkai persepsual ini terjadi ketika orang yang menghadapi problem atau masalah kemudian tanpa sadar seolah-olah ia melihat adanya bingkai tersamar (pembatas) yang mengelilingi disekitar problem tersebut. Padahal ssungguhnya bingkai itu tidak ada, dan hanya ada di dalam bayangan persepsi seseorang. Bingkai tersamar ini kemudian membatasi gerak langkah orang tersebut dalam mencari jalan keluar atas persoalan yang sedang dihadapi.

 Informasi yang tidak relevan
Makin lengkap fakta yang dikumpulkan makin baik.Tetapi yang perlu diingat adalah menemukan fakta-fakta yang penting, bukan semua fakta yang membuat masalah menjadi makin tidak jelas, karena terjadi campur aduk antara fakta-fakta yang relevan dengan yang tidak relevan terhadap masalah yang dihadapi.
H. Masalah Yang Tidak Jelas
Ada sejumlah masalah yang salah satu atau lebih dari tiga komponen itu tidak memiliki kejelasan, ini disebut masalah yang samar atau tidak jelas (ill-defined problem or unstructured problem).
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan orang untuk menghadapi masalah yang tidak jelas. Pertama, seseorang mula-mula membagi suatu masalah ke dalam beberapa bagian masalah yang lebih kecil. Selanjutnya, ia mulai mengerjakan masing-masing masalah yang lebih kecil secara terpisah. Di dalam mengerjakan masalah-masalah yang lebih kecil ini seseorang tidak perlu harus melakukannya secara berurutan, tetapi dapat melompat. Sesudah semuanya diselesaikan atau hampir selesai, kemudian ia menggabungkan masing-masing ke dalam keseluruhan masalah yang tengah dipecahkan.
Kedua, penambahan variabel pembatas lain ke dalam situasi permasalahan, sehingga masalah menjadi lebih terstruktur. Salah satu hambatan dalam menghadapi masalah yang tidak jelas ialah adanya beberapa keterbatasan seseorang di dalam memahaminya, dan tentu jug mencari pemecahan yang tepat. Untuk mencapai suatu pemecahan, bagaimanapun juga orang harus sengaja membatasi kemungkinan-kemungkinan yang ada pada masalah itu, sehingga tampak menjadi lebih sederhana (simpler). Cara ini memungkinkan permasalahan dapat ditangani secara lebih mudah (manageable).
Strategi ketiga, seseorang mulai mengerjakan tugas atau memecahkan masalah meski ia belum memahami permasalahan dengan baik atau lengkap.
Strategi keempat, seeorang harus berhenti pada saat telah ditemukan suatu pemecahan meskipun belum merupakan pemecahan yang paling baik. Pada saat yang lain oran itu dapat menyempurnakannya atau mungkin menemukan alaternatif pmecahan lainyang lebih baik. Perlu diingat bahwa masalah yang tidaka jelas mengandung ketidakpastian baik kondisi yang sedang dihadpi maupun tujuan yang diinginkan, sehingga pemecahan yang dianggap baik pada waktu itu dapat bersifat sementara. Pada waktu yang lain seseorang mungkin dapa menemukan alternatif pemecahan lain yang lebih baik atsu efektif.

I. Pelatihan Ketrampilan Pemecahan Masalah
John D. Bransford dan Barry S. Stein (1984) mengajukan suatu model yang disebut IDEAL approach untuk meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
I = Identifikasi masalah
D = Definisi dan representasi masalah
E = Eksplorasi berbagai kemungkinan strategi
A = Aksi berdasarkan strategi yang telah dipilih
L = Lihat kembali dan evaluasi hasil-hasilnya
 I = Identifikasi masalah
Identifikasi masalah atau pencarian pokok persoalan. Sepintas tampak sederhana, tapi dalam kenyataan merupakan aktifitas yang sangat penting dan menentukan tindakan-tindakan berikutnya.
 D = Definisi dan representasi masalah
Setelah masalah pokok ditemukan, tindakan berikutnya merumuskan dan menggambarkan persoalan secermat mungkin. Meskipun batas antara identifikasi masalah dan definisi masalah agak kabur, namun kedua aspek ini sebenarnya agak berbeda.Pada definisi masalah menunjuk pada dimana letak permasalahan yang sebenarnya sehingga gambaran konkrit bis dibuat.
 E = Ekplorasi berbagai kemungkinan strategi
Aktivitas ini mncakup bagaimana reaksi seseorang terhadap suatu masalah sambil mempertimbangkan pilihan strategi yang mungkin bisa digunakan.
 A = Aksi atau tindakan
Strategi-strategi yang sudah di pilih kemudian diterapkan untuk memperoleh suatu pemecahan atas masalah yang sedang dihadapi.
 L = Lihat efek-efeknya
Pada tahap akhir, orang harus melakukan evaluasi mengenai apakah strategi yang digunakan bisa berjalan dengan baik atau tidak.
J. Petunjuk Pemecahan Masalah
1) Sikap (Attitudes)
• Berpikir positif terhadap masalah
• Berpikir positif terhadap kemampuan memecahkan masalah
• Berpikir secra sistematis
2) Tindakan (Actions)
• Rumuskan masalahnya
• Cari dan kumpulkan fakta-fakta
• Fokuskan pikiran pada fakta-fakta yang penting
• Temukan gagasan masalah untuk pemecahan masalah
• Pilih gagasan yang terbaik dan laksanakan

AUM BIMBINGAN KONSELING

LEMBAR JAWABAN
ALAT UNGKAP MASALAH SMA

Nama : …………….………..…………………………………
Jenis Kelamin : …………….………..…………………………………
No. Induk : …………….………..…………………………………
Kelas : …………….………..…………………………………
Tanggal Pengisian : …………….………..…………………………………


Langkah Pertama :

Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan permasalahan yang terdapat dalam Buku Daftar Masalah dan tandailah masalah yang menjadi keluhan dan mengganggu Anda pada saat sekarang, dengan cara meyilangi (X) nomor masalah yang sesuai, pada lembar jawaban ini:

JDK 001 002 003 004 005 KDP 006 007 008 009 010 PDP 011 012 013 014 015
016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030
031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045

046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060
061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075

DPI 076 077 078 079 080 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090
091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 103 104 105

106 107 108 109 110 ANM 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120
121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135

HSO 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150

151 152 153 154 155 HMM 156 157 158 159 160 KHK 161 162 163 164 165
166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180

EDK 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195

196 197 198 199 200 WSG 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210
211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225




Langkah Kedua :

Perhatikan dan baca kembali jawaban yang telah Anda isi, kemudian pilih masalah-masalah yang menurut Anda dirasakan paling mengganggu dengan cara memasukkan nomor masalah pada kolom berikut ini :

Nomor – nomor masalah yang dirasakan paling menggangu




Langkah Ketiga :

1. Apakah sudah menggambarkan seluruh masalah Anda?


Ya Tidak



2. Masalah lain yang Anda hadapi?



------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------



3. Apakah Anda ingin konsultasi?

Ya Tidak



Jika “ Ya”, kepada siapa Anda ingin berkonsultasi?

a. Guru Bimbingan dan Konseling
b. Orang tua
c. Teman
d. …………………………..





















DAFTAR MASALAH



001. Badan terlalu kurus, atau terlalu gemuk
002. Warna kulit kurang memuaskan
003. Berat badan terus berkurang, atau bertambah.
004. Badan terlalu pendek, atau terlalu gemuk.
005. Secara jasmaniah kurang menarik.
006. Belum mampu memikirkan dan memilih pekerjaan yang akan dijabat nantinya.
007. Belum mengetahui bakat diri sendiri untuk jabatan/pekerjaan apa.
008. Kurang memiliki pengetahuan yang luas tentang lapangan pekerjaan dan seluk beluk jenis-jenis pekerjaan.
009. Ingin memperoleh bantuan dalam mendapatkan pekerjaan sambilan untuk melatih diri bekerja sambil sekolah.
010. Khawatir akan pekerjaan yang dijabatnya nanti; jangan-jangan memberikan penghasilan yang tidak mencukupi.
011. Terpaksa atau ragu-ragu memasuki sekolah ini.
012. Meragukan kemanfaatan memasuki sekolah ini.
013. Sukar menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah.
014. Kurang meminati pelajaran atau jurusan atau program yang diikuti.
015. Khawatir tidak dapat menamatkan sekolah pada waktu yang direncanakan.
016. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan mata kurang baik.
017. Mengalami gangguan tertentui karena cacat jasmani.
018. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan hidung kurang baik.
019. Kondisi kesehatan kulit sering terganggu.
020. Gangguan pada gigi.
021. Ragu akan kemampuan saya untuk sukses dalam bekerja.
022. Belum mampu merencanakan masa depan.
023. Takut akan bayangan masa depan.
024. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan pekerjaan yang layak atau tidak layak untuk dijabat.
025. Khawatir diperlakukan secara tidak wajar atau tidak adil dalam mencari dan/atau melamar pekerjaaan.
026. Sering tidak masuk sekolah.
027. Tugas-tugas pelajaran tidak selesai pada waktunya.
028. Sukar memahami penjelasan guru sewaktu pelajaran berlangsung.
029. Mengalami kesulitan dalam membuat catatan pelajaran.
030. Terpaksa mengikuti mata pelajaran yang tidak disukai.

031. Fungsi dan/atau kondisi kerongkongan kurang baik atau sering terganggu,misalnya serak.
032. Gagap dalam berbicara.
033. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan telinga kurang baik.
034. Kurang mampu berolahraga karena kondisi jasmani yang kurang baik.
035. Gangguan pada pencernaan makanan.
036. Kurang yakin terhadap kamampuan pendidikan sekarang ini dalam menyiapkan jabatan tertentu nantinya.
037. Ragu tentang kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang diikuti sekarang ini.
038. Ingin mengikuti kegiatan pelajaran dan/atau latihan khusus tertentu yang benar-benar menunjang proses mencari dan melamar pekerjaan setamat pendidikan ini.
039. Cemas kalau menjadi penganggur setamat pendidikan ini.
040. Ragu apakah setamat pendidikan ini dapat bekerja secara mandiri.
041. Gelisah dan/atau melakukan kegiatan tidak menentu sewaktu pelajaran berlangsung, misalnya membuat coret-coretan dalam buku,cenderung mengganggu teman.
042. Sering malas belajar.
043. Kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.
044. Khawatir tugas-tugas pelajaran hasilnya kurang memuaskan atau rendah.
045. Mengalami masalah kerena kemajuan atau hasil belajar hanya diberitahukan pada akhir catur wulan.
046. Sering pusing dan/atau mudah sakit.
047. Mengalami gangguan setiap datang bulan.
048. Secara umum merasa tidak sehat.
049. Khawatir mengidap penyakit turunan.
050. Selera makan sering terganggu.
051. Hasil belajar atau nilai-nilai kurang memuaskan.
052. Mengalami masalah dalam belajar kelompok.
053. Kurang berminat dan/atau kurang mampu mempelajari buku pelajaran.
054. Takut dan/atau kurang mampu berbicara di dalam kelas dan/atau di luar kelas.
055. Mengalami kesulitan dalam ejaan, tata bahasa dan/atau perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia.
056. Mengalami masalah dalam menjawab pertanyaan ujian.
057. Tidak mengetahui dan/atau tidak mampu menerapkan cara-cara belajar yang baik.
058. Kekurangan waktu untuk belajar.
059. Mengalami masalah dalam menyusun makalah, laporan atau karya tulis lainnya.
060. Sukar mendapatkan buku pelajaran yang diperlukan.
061. Mengidap penyakit kambuhan.
062. Alergi terhadap makanan atau keadaan tertentu.
063. Kurang atau susah tidur.
064. Mengalami gangguan akibat merokok atau minuman atau obat-obatan.
065. Khawatir tertular penyakit yang diderita orang lain.
066. Mengalami kesulitan dalam pemahaman dan penggunaan istilah dan/atau Bahasa Inggris dan/atau bahasa asing lainnya.
067. Kesulitan dalam membaca cepat dan/atau memahami isi buku pelajaran.
068. Takut menghadapi ulangan/ujian.
069. Khawatir memperoleh nilai rendah dalam ulangan/ujian ataupun tugas-tugas.
070. Kesulitan dalam mengingat materi pelajaran.
071. Seringkali tidak siap menghadapi ujian.
072. Sarana belajar di sekolah kurang memadai.
073. Orang tua kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di sekolah dan/atau dirumah.
074. Anggota keluarga kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di sekolah dan/atau dirumah.
075. Sarana belajar dirumah kurang memadai.
076. Sering mimpi buruk.
077. Cemas atau khawatir tentang sesuatu yang belum pasti.
078. Mudah lupa.
079. Sering melamun atau berkhayal.
080. Ceroboh atau kurang hati-hati.
081. Cara guru menyajikan pelajaran terlalu kaku dan/atau membosankan.
082. Guru kurang bersahabat dan/atau membimbing siswa.
083. Mengalami masalah karena disiplin yang diterapkan oleh guru.
084. Dirugikan karena dalam menilai kemajuan atau keberhasilan siswa guru kurang objektif.
085. Guru kurang memberikan tanggung jawab kepada siswa.
086. Guru kurang adil atau pilih kasih.
087. Ingin dekat dengan guru.
088. Guru kurang memperhatikan kebutuhan dan/atau keadaan siswa.
089. Mendapat perhatian khusus dari guru tertentu.
090. Dalam memberikan pelajaran dan/atau berhubungan dengan siswa sikap dan/atau tindakan guru sering berubah-ubah sehingga membingungkan siswa.




091. Sering murung dan/atau merasa tidak bahagia.
092. Mengalami kerugian atau kesulitan karena terlampau hati-hati.
093. Kurang serius menghadapi sesuatu yang penting.
094. Merasa hidup ini kurang berarti.
095. Sering gagal dan/atau mudah patah semangat.
096. Khawatir akan dipaksa melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
097. Kekurangan informasi tentang pendidikan lanjutan yang dapat dimasuki setamat sekolah ini.
098. Ragu tentang kemanfaatan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
099. Khawatir tidak mampu melanjutkan pelajaran setamat dari sekolah ini dan/atau terlalu memikirkan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
100. Ragu apakah sekolah sekarang ini mampu memberikan modal yang kuat bagi para siswanya untuk menempuh pendidikan yang lebih lanjut.
101. Khawatir tidak tersedia biaya untuk melanjutkan pekerjaan setamat sekolah ini.
102. Tidak dapat mengambil keputusan tentang apakah akan mencari pekerjaan atau melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
103. Khawatir tuntutan dan proses pendidikan lanjutan setamat sekolah ini sangat berat.
104. Terdapat pertentangan pendapat dengan orang tua dan/atau anggota keluarga lain tentang rencana melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
105. Khawatir tidak mampu bersaing dalam upaya memasuki pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
106. Mudah gentar atau khawatir dalam menghadapi dan/atau mengemukakan sesuatu.
107. Penakut, pemalu, dan/atau mudah menjadi bingung.
108. Keras kepala atau sukar mengubah pendapat sendiri meskipun kata orang lain pendapat itu salah.
109. Takut mencoba sesuatu yang baru.
110. Mudah marah atau tidak mampu mengendalikan diri.
111. Mengalami masalah untuk pergi ke tempat peribadatan.
112. Mempunyai pandangan dan/atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
113. Tidak mampu melaksanakan tuntutan keagamaan dan/atau khawatir tidak mampu menghindari larangan yang ditentukan oleh agama.
114. Kurang menyukai pembicaraan tentang agama.
115. Ragu dan ingin memperoleh penjelasan lebih banyak tentang kaidah-kaidah agama.
116. Mengalami kesulitan dalam mendalami agama.
117. Tidak memiliki kecakapan dan/atau sarana untuk melaksanakan ibadah agama.
118. Mengalami masalah karena membandingkan agama yang satu dengan yang lainnya.
119. Bermasalah karena anggota keluarga tidak seagama.
120. Belum menjalankan ibadah agama sebagaimana diharapkan.
121. Merasa kesepian dan/atau takut ditinggal sendiri.
122. Sering bertingkah laku, bertindak, atau bersikap kekanak-kanakan.
123. Rendah diri atau kurang percaya diri.
124. Kurang terbuka terhadap orang lain.
125. Sering membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
126. Berkata dusta dan/atau berbuat tidak jujur untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti membohongi teman,berlaku curang dalam ujian.
127. Kurang mengetahui hal-hal yang menurut orang lain dianggap baik atau buruk,benar atau salah.
128. Tidak dapat mengambil keputusan tentang sesuatu karena kurang memahami baik-buruknya atau benar-salahnya sesuatu itu.
129. Merasa terganggu oleh kesalahan atau keburukan orang lain.
130. Tidak mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengatakan kepada orang lain tentang sesuatu yang baik atau buruk,benar atau salah.
131. Khawatir atau merasa ketakutan akan akibat perbuatan melanggar kaidah-kaidah agama.
132. Kurang menyukai pembicaraan yang dilontarkan di tempat peribadatan.
133. Kurang taat dan/atau kurang khusyuk dalam menjalankan ibadah agama.
134. Mengalami masalah karena memiliki pandangan dan/atau sikap keagamaan yang cenderung fanatik atau berprasangka.
135. Meragukan manfaat ibadah dan/atau upacara keagamaan.
136. Tidak menyukai atau tidak disukai seseorang.
137. Merasa diperhatikan, dibicarakan atau diperolokkan orang lain.
138. Mengalami masalah karena ingin lebih terkenal atau lebih menarik atau lebih menyenangkan bagi orang lain.
139. Mempunyai kawan yang kurang disukai orang lain.
140. Tidak mempunyai kawan akrab, hubungan sosial terbatas atau terisolir.
141. Merasa terganggu karena melakukan sesuatu yang menjadikan orang lain tidak senang.
142. Terlanjur berbicara, bertindak atau bersikap yang tidak layak kepada orang tua dan/atau orang lain.
143. Sering ditegur karena dianggap melakukan kesalahan, pelanggaran atau sesuatu yang tidak layak.
144. Mengalami masalah karena berbohong atau berkata tidak layak meskipun sebenarnya dengan maksud sekedar berolok-olok atau menimbulkan suasana gembira.
145. Tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya perlu dilakukan.
146. Takut dipersalahkan karena melanggar adat.
147. Mengalami masalah karena memiliki kebiasaan yang berbeda dari orang lain.
148. Terlanjur melakukan sesuatu perbuatan yang salah, atau melanggar nilai-nilai moral atau adat.
149. Merasa bersalah karena terpaksa mengingkari janji.
150. Mengalami persoalan karena berbeda pendapat tentang suatu aturan dalam adat.
151. Kurang perduli terhadap orang lain.
152. Rapuh dalam berteman.
153. Merasa tudak dianggap penting, diremehkan atau dikecam oleh orang lain.
154. Mengalami masalah dengan orang lain karena kurang perduli terhadap diri sendiri.
155. Canggung dan/atau tidak lancar berkomunikasi dengan orang lain.
156. Membutuhkan keterangan tentang persoalan seks, pacaran dan/atau perkawinan.
157. Mengalami masalah karena malu dan kurang terbuka dalam membicarakan soal seks, pacar dan/atau jodoh.
158. Khawatir tidak mendapatkan pacar atau jodoh yang baik/cocok.
159. Terlalu memikirkan tentang seks, percintaan, pacaran atau perkawinan.
160. Mengalami masalah karena dilarang atau merasa tidak patut berpacaran.
161. Bermasalah karena kedua orang tua hidup berpisah atau bercerai.
162. Mengalami masalah karena ayah dan/atau ibu kandung telah meninggal.
163. Mengkhawatirkan kondisi kesehatan anggota keluarga.
164. Mengalami masalah karena keadaan dan perlengkapan tempat tinggal dan/atau rumah orang tua kurang memadai.
165. Mengkhawatirkan kondisi orang tua yang bekerja terlalu berat.
166. Tidak lincah dan kurang mengetahui tentang tata krama pergaulan.
167. Kurang pandai memimpin dan/atau mudah dipengaruhi orang lain.
168. Sering membantah atau tidak menyukai sesuatu yang dikatakan/dirasakan orang lain atau dikatakan sombong.
169. Mudah tersinggung atau sakit hati dalam berhubungan dengan orang lain.
170. Lambat menjalin persahabatan.
171. Kurang mendapat perhatian dari jenis kelamin lain atau pacar.
172. Mengalami masalah karena ingin mempunyai pacar.
173. Canggung dalam menghadapi jenis kelamin lain atau pacar.
174. Sukar mengendalikan dorongan seksual.
175. Mengalami masalah dalam memilih teman akrab dari jenis kelamin lain atau pacar.
176. Keluarga mengeluh tentang keadaan keuangan.
177. Mengkhawatirkan keadaan orang tua yang bertempat tinggal jauh.
178. Bermasalah karena ibu atau bapak akan kawin lagi.
179. Khawatir tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan orang tua atau anggota keluarga lain.
180. Membayangkan dan berpikir-pikir seandainya menjadi anak dari keluarga lain.
181. Mengalami masalah karena kurang mampu berhemat atau kemampuan keuangan sangat tidak mencukupi, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan pekerjaan.
182. Khawatir tidak mampu menamatkan sekolah ini atau putus sekolah dan harus segera bekerja.
183. Mengalami masalah karena terlalu berhemat dan/atau ingin menabung.
184. Kekurangan dalam keuangan menyebabkan dalam pengembangan diri terhambat.
185. Untuk memenuhi keuangan terpaksa sekolah sambil bekerja.
186. Mengalami masalah karena takut atau sudah terlalu jauh berhubungan dengan jenis kelamin lain atau pacar.
187. Bertepuk sebelah tangan dengan kawan akrab atau pacar.
188. Takut ditinggalkan pacar atau patah hati, cemburu atau cinta segitiga.
189. Khawatir akan dipaksa kawin.
190. Mengalami masalah karena sering dan mudah jatuh cinta dan/atau rindu kepada pacar.
191. Kurang mendapat perhatian dan pengertian dari orang tua dan/atau anggota keluarga.
192. Mengalami kesulitan dengan bapak atau ibu tiri.
193. Diperlakukan tidak adil oleh orang tua atau oleh anggota keluarga lainnya.
194. Khawatir akan terjadinya pertentangan atau percekcokan dalam keluarga.
195. Hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga kurang hangat, kurang harmonis dan/atau kurang menggembirakan.
196. Mengalami masalah karena ingin berpenghasilan sendiri.
197. Berhutang yang cukup memberatkan.
198. Besarnya uang yang diperoleh dan sumber-sumbernya tidak menentu.
199. Khawatir akan kondisi keuangan orang tua atau orang yang menjadi sumber keuangan; jangan-jangan harus menjual atau menggadaikan harta keluarga.
200. Mengalami masalah karena keuangan dikendalikan oleh orang lain.
201. Kekurangan waktu senggang, seprti waktu istirahat, waktu luang d sekolah ataupun dirumah, waktu libur untuk bersikap santai dan/atau melakukan kegiatan yang menyenangkan atau rekreasi.
202. Tidak diperkenankan atau kurang bebas dalam menggunakan waktu senggang yang tersedia untuk kegiatan yang disukai/diingini.
203. Mengalami masalah untuk mengikutikegiatan acara-acara gembira dan santai bersama kawan-kawan.
204. Tidak mempunyai kawan akrab untuk bersama-sama mengisi waktu senggang.
205. Mengalami masalah karena memikirkan atau membayangkan kesempatan waktu berlibur ditempat yang jauh, indah, tenang dan menyenangkan.
206. Mengalami masalah karena menjadi anak tunggal, anak sulung, anak bungsu, satu-satunya anak laki-laki atau satu-satunya anak perempuan.
207. Hubungan kurang harmonis dengan kakak atau adik atau dengan anggota keluarga lainnya.
208. Orang tua atau keluarga anggota lainnya terlalu berkuasa atau kurang memberi kebebasan.
209. Dicurigai oleh orang tua atau anggota keluarga lain.
210. Bermasalah karena dirumah orang tua tinggal orang atau anggota keluarga lain.
211. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan kondisi keuangan sendiri dengan kondisi keuangan orang lain.
212. Kesulitan dalam mendapatkan penghasilan sendiri sambil sekolah.
213. Mempertanyakan kemungkinan memperoleh beasiswa atau dana bantuan belajar lainnya.
214. Orang lain menganggap pelit dan/atau tidak mau membantu kawan yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
215. Terpaksa berbagi pengeluaran keuangan dengan kakak atau adik atau anggota keluarga lain yang sama-sama membutuhkan biaya.
216. Tidak mengetahui cara menggunakan waktu senggang yang ada.
217. Kekurangan sarana, seperti biaya, kendaraan, televisi, buku-buku bacaan, dan lain-lain untuk memanfaatkan waktu senggang.
218. Mengalami masalah karena cara melaksanakan kegiatan atau acara yang kurang tepat dalam menggunakan waktu senggang.
219. Mengalami masalah dalam menggunakan waktu senggang karena tidak memiliki keterampilan tertentu, seperti bermain musik, olah raga, menari dan sebagainya.
220. Kurang berminat atau tidak ada hal yang menarik dalam memanfaatkan waktu senggang yang tersedia.
221. Tinggal di lingkungan keluarga atau tetangga yang kurang menyenangkan.
222. Tidak sependapat dengan orang tua atau anggota keluarga tentang sesuatu yang direncanakan.
223. Orang tua kurang senang kawan-kawan datang ke rumah.
224. Mengalami masalah karena rindu dan ingin bertemu dengan orang tua dan/atau anggota keluarga lainnya.
225. Tidak betah dan ingin meninggalkan rumah karena keadaannya sangat tidak menyenangkan.